Rupiah Ditutup Turun Tipis, Pasar Masih Pantau Ketegangan Timur Tengah

  • 03 Mar 2026 20:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.C0.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah melemah tipis dalam penutupan perdagangan hari ini, Selasa, 3 Maret 2026. Dari data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,02 persen atau 4 poin menjadi Rp16.872 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah masih berfuktuatif karena dampak perang AS- Iran yang memicu ketegangan di Timur Tengah. Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan pelaku pasar masih mengamati sampai sejauh mana konflik akan memicu harga minyak mentah.

Ditambah lagi dengan situasi tak menentu di Selat Hormuz. "Kapal tanker dan kapal kontainer menghindari jalur tersebut karena perusahaan asuransi telah membatalkan pertanggungan mereka," kata Ibrahim dalam analisisnya, Selasa, 3 Maret 2026.

Sementara itu tarif pengiriman minyak dan gas global sudah melonjak naik. Iran mengancam akan menembak kapal yang berani masuk ke perairan Selat Hormuz.

Selat Hormuz memiliki peran penting, karena menjadi lalu lintas 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. "Para analis memperkirakan harga minyak akan tetap tinggi dalam beberapa hari mendatang karena konflik di Timur Tengah," ucap Ibrahim.

Hari ini, pasar juga akan mencermati pernyataan sejumlah pejabat The Fed. Pernyataan yang cenderung agresif dari para pejabat Fed dapat memperkuat dolar AS .

Pekan ini, juga akan rilis data tenaga kerja di AS, yaitu perubahan ketenagakerjaan Automatic Data Processing (ADP). Serta laporan Nonfarm Payrolls (NFP), yang dapat membentuk ekspektasi untuk jalur kebijakan moneter Fed.

"Data ekonomi terbaru menunjukkan inflasi tetap tinggi. Hal ini mendorong pelaki pasar mengurangi taruhan pada pelonggaran kebijakan moneter jangka pendek," ujar Ibrahim.

Dari sisi internal, laporan neraca perdagangan Indonesia untuk bulan Januari membukukan surplus sebesar USD0,95 miliar. Sehingga neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus selama 69 bulan berturut-turut, terutama sejak Mei 2020.

Surplus neraca perdagangan memberikan sentimen positif bagi pasar. Surplus pada Januari 2026 ditopang oleh surplus neraca perdagangan nonmigas sebesar USD3,22 miliar.

Komoditi penyumbang surplus pada nonmigas yaitu lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. "Sedangkan neraca komoditas migas mengalami defisit sebanyak USD2,27 miliar, komoditi penyumbang defisit terutama minyak mentah, hasil minyak dan gas," ujar Ibrahim.

Rekomendasi Berita