Pasar Khawatir Perang Berkepanjangan, IHSG Ditutup Turun Signifikan
- 03 Mar 2026 22:56 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah dalam perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG ditutup turun 0,96 persen atau 77 poin ke level 7.939,77.
Sebanyak 365 saham harganya turun, 362 saham harganya naik, dan 231 saham stagnan. Saham sektor industrial naik paling tinggi 0,56 persen, sedangkan saham sektor bahan baku turun paling dalam -3,85 persen.
"Kekhawatiran akan dampak perang yang berkepanjangan, menjadi sentimen negatif IHSG hari ini," kata Tim Phintraco Sekuritas dalam analisisnya, Selasa 3 Maret 2026. Presiden Trump memperingatkan bahwa perang dapat berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan semula hanya empat pekan.
"Perang juga dikhawatirkan akan meluas karena entitas Israel secara bersamaan menargetkan Iran dan Lebanon. Zionis Israel menyampaikan hal tersebut setelah kelompok pejuang Hizbullah menyerang Tel Aviv dengan rudal dan drone," ujar Tim Phintraco.
Dalam perdagangan di BEI, volume saham yang diperdagangkan hari ini sebanyak 44,40 miliar lembar saham. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 2,90 juta kali transaksi.
Total nilai perdagangan sebesar Rp29,80 triliun dan kapitalisasi pasar menjadi Rp14.176 triliun. Hari ini tercatat terjadi aliran keluar modal asing sebesar Rp1,17 triliun
Tim Phintraco menyebut kekhawatiran pasar membuat mayoritas indeks bursa Asia bergerak melemah hari ini. Indeks di bursa Eropa juga dibuka di teritori negatif, seiring meningkatnya tekanan risiko geopolitik.
Indeks futures di Wall Street juga bergerak melemah, investor global menghindari aset-aset berisiko termasuk saham. Sebaliknya, harga emas futures bergerak menguat sekitar 0,52 persen, tapi harga emas spot melemah 0,25 persen.
Meski turun, harga emas di pasar spot masih di sekitar level USD5.300 per troi ons. Sementara itu harga minyak WTI menguat hampir 3 persen di atas level USD74 per barel.
Sedangkan harga minyak Brent menguat lebih dari 3 persen di atas level USD81 per barel. "Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menimbulkan gejolak di pasar energi global," ucap Tim Phintraco.
Negara-negara di Asia diperkirakan akan menghadapi dampak paling besar dari gejolak harga energi tersebut. Penutupan selat secara berkepanjangan mendorong kenaikan harga minyak mentah lebih lanjut, yang dapat mendorong kenaikan inflasi.