Rupiah Kalahkan Dolar AS dalam Penutupan Perdagangan Hari Ini

  • 25 Feb 2026 20:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah berhasil mengalahkan kekuatan dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Dari Bloomberg terpantau rupiah naik 0,17 persen atau 29 poin menjadi Rp16.800 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah menguat dipicu sentimen pasar terhadap pernyataan sejumlah pejabat the Fed terkait suku bunga. "Presiden Federal Reserve Boston, Susan Collins mengatakan, suku bunga kemungkinan akan tetap tidak berubah 'untuk beberapa waktu'," kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya Rabu, 25 Februari 2026.

Menurutnya, Collins menyampaikan hal tersebut, karena data ekonomi terbaru menunjukkan perbaikan di pasar tenaga kerja. Tetapi risiko inflasi masih ada yang membuat the Fed harus mempertahankan level suku bunganya.

Sementara itu, Ketua Federal Reserve Chicago, Austin Goolsbee, menolak ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter. Alasannya, suku bunga harus tetap tidak berubah karena inflasi masih di atas mandat 2 persen.

Ketua Federal Reserve Atlanta, Raphael Bostic juga menunjukkan sikap yang sama. Dia menggarisbawahi perlunya menjaga inflasi tetap menjadi fokus utama.

Di sisi lain, Amerika Serikat mulai memberlakukan tarif impor global sementara sebesar 10 persen pada hari ini. Tarif tersebut akan berlaku selama 150 hari ke depan.

"Trump juga berupaya meningkatkan tarif tersebut menjadi 15 persen. Langkah yang telah memicu ketidakpastian atas perdagangan global dan memicu inflasi," ujar Ibrahim.

Ketegangan geopolitik, tambah Ibrahim, juga tetap menjadi perhatian pasar. Wakil Menteri Luar Negeri Iran menyatakan Teheran siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai kesepakatan dengan AS.

Kedua pihak akan mengadakan putaran ketiga pembicaraan pada hari Kamis di Jenewa. Perundingan berlanjut di tengah meningkatnya ketegangan atas potensi bentrokan militer antara Washington dan Teheran.

Di dalam negeri, lembaga rating Moody's memberikan peringkat Baa2 terhadap obligasi berdenominasi yuan Tiongkok dan euro yang diterbitkan pemerintah Indonesia. "Secara fundamental, Moody’s menilai Indonesia masih memiliki ketahanan ekonomi yang memadai," ucap Ibrahim.

Ketahanan ekonomi Indonesia ditopang oleh kekayaan sumber daya alam serta struktur demografi yang relatif menguntungkan. Dua hal tersebut menjadi menjadi bantalan pertumbuhan jangka menengah.

Moody’s memperkirakan pertumbuhan ekonomi riil Indonesia akan bertahan di kisaran 5 persen dalam beberapa tahun ke depan. Defisit fiskal juga tetap berada di bawah ambang batas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Namun, stabilitas tersebut saat ini tengah dibayangi oleh meningkatnya ketidakpastian dalam proses perumusan kebijakan. Moody’s secara eksplisit mencatat bahwa prediktabilitas dan koherensi kebijakan telah melemah dalam setahun terakhir.

"Kondisinya diperparah oleh komunikasi kebijakan yang kurang efektif. Kombinasi ini berkontribusi pada meningkatnya volatilitas di pasar ekuitas dan valuta asing," kata Ibrahim mengutip penilaian Moody's.

Moody's menyebut Pemerintah Indonesia diperkirakan akan semakin mengandalkan belanja fiskal untuk mendukung agenda pembangunan. Termasuk untuk program ketahanan pangan dan perumahan terjangkau.

Moody’s juga memperkirakan rasio utang pemerintah akan tetap stabil di sekitar 40 persen terhadap PDB. Level utang itu masih di bawah median negara-negara dengan peringkat serupa dengan Indonesia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....