Neraca Perdagangan Surplus, IHSG Ditutup Menguat
- 01 Des 2025 21:46 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) cenderung bergerak di zona hijau hari ini. Saat penutupan perdagangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 0,74 persen atau 40 poin ke level 8.548,79.
Sebanyak 397 saham harganya turun, 335 saham harganya naik, dan 224 saham stagnan. "Saham sektor barang sekunder naik paling kuat (2,89 persen), saham sektor properti dan real estate turun paling dalam (-2,02 persen)," kata Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Senin (1/12/2025).
Baca Juga:
Data Ekonomi Indonesia Positif, Rupiah Ditutup Menguat
Emas Perhiasan Kembali Picu Inflasi November 2025
Tim Pilarmas menyebut, kenaikan IHSG ditopang sentimen positif pasar setelah rilis data neraca perdagangan Indonesia. Laporan Badan Pusat Statistik menunjukkan, secara bulanan, neraca perdagangan barang di bulan Oktober surplus sebesar USD2,39 miliar.
Dengan demikian neraca perdagangan Indonesia surplus 66 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. "Tapi surplusnya turun ke level terendah dalam tujuh bulan terakhir karena ekspor melemah untuk pertama kalinya dalam 1,5 tahun," ujar Tim Pilarmas.
Pelemahan ekspor disebabkan oleh menurunnya permintaan global dan kenaikan tarif AS. Sementara itu, inflasi tahunan Indonesia mereda menjadi 2,72 persen secara tahunan pada November 2025.
"Namun level inflasi itu tetap mendekati level tertingginya sejak April 2024. Begitu pula dengan inflasi inti yang stabil di 2,36 persen merupakan level tertinggi sejak Juni 2025," kata Tim Pilarmas lagi.
Volume saham yang diperdagangkan hari ini sebanyak 44,64 miliar lembar, dengan frekuensi perdagangan sebanyak 2,58 juta kali transaksi. Total nilai perdagangan sebesar Rp21,92 triliun dan kapitalisasi pasar menjadi Rp15.647 triliun.
Indeks LQ45 yang berisi saham unggulan juga bergerak menguat hari ini. Penguatan didominasi oleh saham JPFA, GOTO, TLKM, PGAS, dan ANTM.
Sementara itu, bursa Asia di dominasi penguatan setelah gelombang komentar bernada dovish (longgar) dari para pejabat the Fed. Sehingga para pelaku pasar meningkatkan perkiraan pemangkasan suku bunga menjadi sebesar 87,6 persen.
Di Tiongkok, survei swasta menunjukkan aktivitas pabrik Tiongkok kembali merosot ke zona kontraksi pada bulan November. Kondisi itu mencerminkan lemahnya permintaan domestik yang berkelanjutan di Negeri Panda itu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....