Data Ekonomi Indonesia Positif, Rupiah Ditutup Menguat

  • 01 Des 2025 20:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini, Senin (1/12/2025). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah naik 0,07 persen atau 12 poin menjadi Rp16.663 per dolar AS.

Penguatan rupiah ditopang oleh rilis data ekonomi Indonesia yang menunjukkan kinerja positif. Laporan S&P Global menyebutkan, PMI Manufaktur Indonesia bulan November 2025 di level 52,3.

“PMI Manufaktur bulan November naik dibandingkan bulan Oktober yang tercatat sebesar 51,2. Sehingga aktivitas manufaktur Indonesia kembali menunjukkan ekspansi empat bulan berturut-turut,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Senin (1/12/2025).

Baca Juga:

BPS akan Rilis Data Ekonomi, Rupiah Dibuka Menguat

Emas Perhiasan Kembali Picu Inflasi November 2025

Sebelum ekspansi beruntun, PMI manufaktur sempat terkontraksi ke titik terendah di level 46,7 pada April 2025. Kontraksi berlanjut hingga Juli 2025, kemudian PMI Manufaktur naik kembali ke level ekspansi sejak bulan Agustus.

“Ekspansi bulan ini didorong oleh kenaikan volume output karena pertumbuhan pesanan baru yang tercatat tercepat sejak Agustus 2023. Perbaikan kondisi permintaan juga menyebabkan meningkatnya kebutuhan tenaga kerja dan aktivitas pembelian,” ujar Ibrahim.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik dalam rilisnya hari ini mengumumkan kinerja neraca perdagangan barang hingga Oktober 2025. Secara bulanan, neraca perdagangan Indonesia di bulan Oktober surplus sebesar USD2,39 miliar.

Surplus berasal dari nilai ekspor USD24,24 miliar, lebih besar dibandingkan nilai impornya sebesar USD21,84 miliar. Secara bulanan, nilai ekspor maupun impor bulan Oktober menurun, masing-masing 2,31 persen dan 1,15 persen.

Secara kumulatif, dari Januari-Oktober 2025, neraca perdagangan Indonesia surplus sebesar USD35,88 miliar. Surplusnya meningkat USD10,98 miliar dibandingkan periode yang sama tahun 2024.

“Dengan demikian, neraca perdagangan barang surplus selama 66 bulan berturut-turut, sejak Mei 2020,” kata Ibrahim mengutip data BPS. Di sisi lain, sambungnya, pelemahan dolar AS hari ini menjadi peluang bagi rupiah untuk menguat.

Menurut Ibrahim, dolar melemah karena investor bersiap menghadapi bulan krusial yang berpotensi membawa pemangkasan suku bunga the Fed. Perangkan CME Fedwatch menunjukkan peluang 87 persen The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin.

Pelaku pasar, kini menunggu data PMI Manufaktur di AS yang diperkirakan sedikit menurun. Data lainnya yang dinanti adalah data ketenagakerjaan, klaim pengangguran awal dan data produksi industri.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....