Pasar Tunggu Kebijakan Suku Bunga, Rupiah Makin Loyo

  • 18 Nov 2025 19:38 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Rupiah masih melemah terhadap dolar AS hingga penutupan perdagangan hari ini, Selasa (18/11/2025). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,09 persen atau 15 poin menjadi Rp16.751 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS, tidak lepas dari sentimen pasar yang masih mencari pandangan terkait kebijakan moneter the Fed. Namun pejabat the Fed Atlanta Bostic dan Presiden The Fed Kansas City Schmid, menyuarakan kekhawatiran tentang inflasi.

“Hal itu menjadi isyarat kedua pejabat tersebut, untuk mendukung kebijakan mempertahankan suku bunga tetap,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Selasa (18/11/2025). CME Fedwatch menunjukkan, peluang 42,4 persen bagi penurunan suku bunga dan peluang 57,6 persen untuk mempertahankan suku bunga.

Baca Juga:

Tekanan Dolar Makin Dalam, Rupiah Dibuka Melemah Lagi

Tahun 2026, Suku Bunga KUR Hanya 6 Persen

“Data penggajian nonpertanian bulan September akan dirilis Kamis ini. Data ini kemungkinan akan menjadi data resmi terbaru di pasar tenaga kerja sebelum pertemuan the Fed pada 10-11 Desember,” ucap Ibrahim.

Saat ini fokus pasar adalah risalah Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan Oktober yang akan dirilis hari Rabu. Di sisi lain, perang Rusia-Ukraina makin meluas, seiring serangan Ukraina ke dua pembangkit listrik tenaga termal Rusia.

Presiden Trump disebut-sebut akan menandatangani undang-undang untuk menjatuhkan sanksi pada Rusia. Sebelumnya Trump mengatakan sedang menyusun undang-undang sanksi pada negara yang berbisnis dengan Rusia, termasuk sanksi pada Iran.

Di dalam negeri, pelaku pasar mencermati laporan Bank Indonesia terkait posisi Utang Luar Negeri Indonesia. Hingga akhir Oktober 2025, ULN Indonesia sebesar USD424,4 miliar.

Rilis BI menyebutkan ULN Indonesia tetap sehat didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tecermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang turun menjadi 29,5 persen pada Kuartal III-2025.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....