Perdagangan Lesu, IHSG Ditutup di Zona Merah

  • 30 Sep 2025 20:56 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak lesu hari ini, Selasa (30/9/2025). Dibuka naik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun saat penutupan perdagangan sebesar 0,77 persen ke level 8.061.

“IHSG melemah karena aksi ambil untung (profi taking) para investor. Serta turunnya prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia berdasarkan perkiraan Asian Development Bank (ADB),” kata Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Selasa (30/9/2026).

ADB merevisi ke bawah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesi. Yakni dari 5 persen saat proyeksi di bulan April, menjadi 4,9 persen berdasarkan proyeksi bulan September.

Baca Juga:

IHSG Diperkirakan Naik Terbatas Hari ini

Penutupan Perdagangan, Rupiah Berhasil Naik 15 Poin

Hari ini sebanyak 410 saham harganya turun, 304 harganya naik dan 243 saham stagnan. Saham sektor properti dan real estate naik paling kuat (0,29 persen), sektor transportasi dan logistik turun paling dalam (-1,83 persen)

“Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga melemah. Saham yang mendominasi penurunan adalah INDF, ANTM, MDKA, ARTO, dan GOTO,” kata Tim Pilarmas

Volume saham yang diperdagangkan sebanyak 55,24 miliar lembar saham, frekuensi perdagangan sebanyak 2,54 juta kali transaksi. Total nilai perdagangan sebesar Rp27,38 triliun dan kapitalisasi pasar menjadi Rp14.890 triliun.

Sementara itu Tim Analis Phillip Sekuritas Indonesia mencatat, hari ini terjadi aliran keluar modal asing. Aksi jual saham oleh investor asing cukup signifikan, tercatat sebesar Rp1,25 triliun.

Saham-saham yang paling banyak dijual Asing adalah RAJA, WIFI,CUAN, BMRI dan MBMA. Tim Analis Phillip Sekuritas juga menyebut, indeks saham di bursa Asia mayoritas melemah hari ini.

“Pelemahan dipengaruhi oleh data aktivitas manufaktur Tiongkok yang sedikit membaik. Tetapi masih terkontraksi selama enam bulan berturut-turut, terpanjang sejak tahun 2019,” ujar Tim Phillip Sekuritas.

Permintaan yang melemah ikut mempengaruhi prospek sektor manufaktur Tiongkok. Ditambah ketidakpastian seputar tarif AS menciptakan risiko bagi ekspotir.

Akibatnya, pertumbuhan ekonomi Tiongkok berisiko melambat, setelah mengalami lonjakan di awal tahun. Sehingga pemerintah Tiongkok merasa perlu untuk menggelontorkan stimulus berskala besar untuk mendongkrak perekonomiannya.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....