Penutupan Perdagangan, Rupiah Berhasil Naik 15 Poin

  • 30 Sep 2025 20:06 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah berhasil menguat dalam penutupan perdagangan hari ini, Selasa (30/9/2025), setelah melemah saat pembukaan perdagangan pagi hari. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah naik 0,09 persen atau 15 poin menjadi Rp16.665 per dolar AS.

Pasar mencermati kemungkinan ‘shutdown’ (penutupan) pemerintahan AS karena masalah anggaran. “Kongres memiliki waktu hingga tengah malam hari ini untuk mengesahkan anggaran dan menghindari penutupan ratusan lembaga federal,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Selasa (30/9/2025).

Baca Juga:

Rupiah Berbalik Melemah ke Level Rp16.693/Dolar AS

Harga Emas Bakal Melambung Bulan Oktober

Pembicaraan bipartisan dengan Presiden Trump Senin kemarin, juga tidak banyak membantu memecahkan kebuntuan politik di AS. Terutama masalah anggaran untuk kesehatan dan program sosial.

Meski Partai Republik mayoritas dengan 53 kursi di senat, tapi masih membutuhkan 60 suara untuk menyetujui RUU Anggaran. “Penutupan pemerintahan akan mengganggu perekonomian AS, potensi PHK pekerja di lembaga pemerintahan akan melemahkan pasar tenaga kerja,” ucap Ibrahim.

Kondisi itu diperburuk dengan kebijakan tarif Trump yang baru dan akan diberlakukan tanggal 14 Oktober mendatang. Di antaranya tarif impor 10 persen untuk kayu dan papan kayu, 25 persen untuk lemari dapur dan meja rias.

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh rilis Asian Development Bank (ADB), yang merevisi ke bawah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Yaitu sebesar 5 persen di bulan April menjadi 4,9 persen di bulan September 2025.

ADB juga juga merevisi ke bawah perkiraan inflasi Indonesia tahun 2025. Yakni dari 2 persen di bulan April, direvisi menjadi 1,7 persen. “Perekonomian di Asia Tenggara mengalami penurunan prakiraan pertumbuhan terbesar di tengah pelemahan permintaan global, serta naiknya ketidakpastian perdagangan,” kata Kepala Ekonom ADB, Albert Park.

Menurutnya, pertumbuhan subkawasan ini diproyeksikan menjadi 4,3 persen tahun 2025. ADB melihat kebijakan tarif AS yang memicu ketidakpastikan, berimbas pada pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Tenggara.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....