Kuatnya Tekanan Faktor Eksternal, Rupiah Melemah 21 Poin
- 04 Sep 2025 11:36 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Pelemahan rupiah makin dalam dalam pembukaan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,13 persen atau 21 poin ke posisi Rp16.437 per dolar AS.
Dalam penutupan perdagangan hari Rabu kemarin, rupiah turun tipis hanya satu poin ke posisi Rp16.415 per dolar AS. "Rupiah dibuka melemah terhadap dolar AS, walau indeks dolar AS turun," kata Analis Pasar Uang, Lukman Leong, Kamis (4/9/2025)
Baca Juga: Sepi Katalis, Rupiah Turun Tipis Satu Poin
Baca Juga: Perdagangan Saham Fluktuatif, IHSG Dibuka Terkoreksi
Indeks dolar turun semalam, karena data pekerjaan di Amerika Serikat yang lemah. Indeks dollar saat ini bertahan di level 98.
Sementara data pekerjaan, jumlah lowongan kerja turun 176.000 menjadi 7,18 juta. Data tersebut di bawah ekspektasi pasar sebesar 7,4 juta lowongan kerja, dan merupakan yang terendah sejak September 2024.
"Sentimen masih lemah walau sell-off obligasi di negara ekonomi utama dunia mereda. Namun masalah yg memicu fiskal dan politik belum hilang," ucap Lukman.
Ia memperkirakan rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp16.400-16.500 per dolar AS. Selain rupiah, sejumlah mata uang negara maju juga mengalami tekanan beberapa hari terakhir.
"Mata uang Pound Sterling, Euro, dan Yen melemah signifikan karena gejolak yang terjadi pada pasar surat berharga. Terutama pasar surat berharga di negara-negara maju," kata Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto.
Menurutnya, imbal hasil surat berharga Amerika Serikat (US Treasury) tenor 30 tahun sempat menembus lima persen. Angka itu merupakan level psikologis tertinggi sejak Juli 2025.
Lonjakan tajam imbal hasil juga terjadi pada obligasi pemerintah Inggris, Eropa, dan Jepang. Yield obligasi pemerintah Jepang (JGB) 20 tahun menyentuh level tertinggi sejak 1999, sebesar 2,69 persen.
"Gejolak yang terjadi di pasar obligasi pemerintah negara-negara maju, dipengaruhi krisis politik. Krisis itu menyebabkan keraguan terhadap pengelolaan fiskal," ujar Rully menutup keterangannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....