Sepi Katalis, Rupiah Turun Tipis Satu Poin

  • 03 Sep 2025 19:07 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah bergerak landai dan melemah tipis 0,01 persen atau satu poin terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada penutupan perdagangan Rabu (3/9/2025), rupiah turun ke level Rp16.415 per dolar AS mengacu pada Bloomberg.

Perubahan nilai tukar tidak terlalu signifikan karena sepi katalis, pasar masih mencermati sejumlah isu yang masih bergulir. Di antaranya keputusan persidangan bahwa kebijakan tarif AS ilegal dan hanya bisa berlaku sampai pertengahan Oktober 2025.

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan putusan itu akan mendorong Washington menegosiasi ulang kesepakatan perdagangan. "Itu artinya akan timbul kembali gangguan dalam perdagangan global," ujarnya.

Baca juga: Rupiah Berpeluang Menguat, Meski Melemah di Awal Perdagangan

Kondisi itu juga dapat mendorong bank sentral AS, The Fed, memangkas suku bunganya. Sehingga ekspektasi pasar, berdasarkan CME Fedwatch Tool, menguat lebih dari 90 persen.

Keyakinan pasar makin kuat bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin akhir bulan ini. Pasar juga fokus pada kemungkinan perundingan perdagangan antara AS dan India.

AS mengenakan sanksi tarif perdagangan 50 persen pada India karena membeli minyak mentah dari Rusia. Sanksi tersebut berpotensi mengganggu pasokan minyak global karena Arab Saudi dan Irak sudah menghentikan pengiriman minyak ke India.

Parade militer Tiongkok dan tampilnya trio Xi Jinping, Vladimir Putin, dan Kim Jong Un memicu spekulasi pelaku pasar. Para analis mengatakan hal itu dapat mendorong Donald Trump bereaksi dan mengenakan sanksi yang lebih berat.

Di dalam negeri, Ibrahim mencermati optimisme Bank Indonesia (BI) terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan. "BI menyakini pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen dalam asumsi makro RAPBN 2026 dapat tercapai," ucapnya.

BI sendiri memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan di kisaran 4,7-5,5 persen. Ini mempertimbangkan kebijakan fiskal dan berbagai program yang dilakukan pemerintah untuk mendorong sektor riil.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....