Kekhawatiran Pasar Menguat, Rupiah Merosot 95 Poin
- 23 Jun 2025 17:08 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah merosot 95 poin (0,58 persen) terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (23/6/2025). Sehingga nilai tukar rupiah saat ini berada di posisi Rp16.492 per dolar AS.
Perkembangan konflik di Timur Tengah berperan dominan mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. "Serangan AS ke fasilitas nuklir Iran membuat investor fokus ke Selat Hormuz," kata analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi.
Baca juga: Rupiah Kena Imbas Perang, Dibuka Melemah Tertekan Dolar
Laporan media internasional menyebutkan parlemen Iran sudah menyetujui penutupan Selat Hormuz. Namun itu masih harus mendapatkan persetujuan Dewan Keamanan Tertinggi Nasional Iran.
"Penutupan Selat Hormuz berpotensi mengganggu pasokan minyak ke Asia dan Eropa," ucap Ibrahim. Selain itu akan menyebabkan gangguan ekonomi yang lebih besar di kawasan tersebut.
Pelaku pasar juga menunggu data ekonomi Jepang, terutama laju inflasi per Juni 2025. Sementara indeks manufaktur dan sektor jasa Jepang menunjukkan pertumbuhan yang mengindikasikan membaiknya permintaan dalam negeri.
Sementara di dalam negeri, pasar merespons perkembangan konflik di Timur Tengah terkait imbasnya ke harga minyak. Meningkatnya ketegangan berisiko mengganggu stabilitas pasokan minyak yang dapat berdampak pada kenaikan inflasi.
"Apalagi Indonesia merupakan negara pengimpor minyak yang jumlahnya mencapai satu juta barel per hari," ujar Ibrahim. Menurut dia, setiap kenaikan harga minyak mentah akan berdampak pada biaya impor dan tekanan terhadap neraca perdagangan.
Pelemahan rupiah, lanjut Ibrahim, akan membawa implikasi fiskal yang serius. Terutama karena beban subsidi BBM yang akan membengkak sehingga berpotensi menaikkan harga BBM.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar luar negeri dan dalam negeri. "Upaya itu disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," katanya menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....