Perdagangan Saham Lesu, IHSG Ditutup di Zona Merah
- 11 Jun 2025 18:34 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpantau lesu sepanjang Rabu (11/6/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah, ditutup turun 0,11 persen (8 poin) ke level 7.222.
Penurunan IHSG antara lain disebabkan melemahnya indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan. Saham–saham yang mendominasi penurunan di antaranya TLKM, KLBF, BBRI, AMRT, dan MAPI.
Sebanyak 353 saham harganya naik, 266 saham turun dan 341 saham stagnan. Saham sektor bahan baku naik paling tinggi (2 persen) dan saham sektor finansial turun terdalam (minus 0,30 persen).
"Melemahnya saham-saham sektor perbankan ikut mendorong pelemahan IHSG," kata Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas. Menurut mereka, hal itu disebabkan kinerja kredit perbankan yang melemah pada April 2025.
Baca juga: IHSG Berbalik Melemah di Awal Sesi Perdagangan
Sentimen pasar juga dipengaruhi anjloknya penjualan mobil di Indonesia. Secara tahunan, penjualan mobil per Mei 2025 turun 15 persen dengan kendaraan jumlah terjual 60.613 unit.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyebutkan secara bulanan penjualan mobil melonjak 18,4 persen pada Mei 2025. Sebulan sebelumnya, penjualan mobil bangkit merosot hingga 27,8 persen.
Sehingga sepanjang lima bulan pertama tahun ini, total penjualan mobil mencapai 316.981 unit. Ini berarti turun 5 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024.
Sementara itu, bursa efek Asia didominasi penguatan pada penutupan perdagangan Rabu (11/6/2025). Ini didorong rasa optimisme atas kemajuan dalam perundingan perdagangan antara AS dan Tiongkok.
Namun, pelaku pasar masih menunggu rincian kerangka kerja yang disepakati kedua negara. "Washington dan Beijing melakukan perundingan untuk melonggarkan kontrol ekspor dan menstabilkan hubungan dagang," kata Tim Pilarmas.
Para pelaku pasar juga sedang menantikan rilis data tingkat inflasi AS. Diperkirakan angkanya mengalami kenaikan dari 2,3 persen menjadi 2,5 persen secara tahunan.
Menurut Tim Pilarmas, kenaikan inflasi semakin memperkecil kemungkinan The Fed memangkas suku bunganya pada pertemuan dewan eksekutif selanjutnya. "Ini karena data inflasi akan menjadi acuan kebijakan suku bunga The Fed," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....