Penutupan Perdagangan, Rupiah Berbalik Melemah Lagi
- 30 Jul 2026 19:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Volatilitas nilai tukar rupiah masih tinggi akibat dinamika global maupun nasional
- Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah ditutup turun 0,21 persen atau 38 poin ke posisi Rp18.111 per dolar AS
- Di dalam negeri para ekonom memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 melemah antara 4,8 persen sampai 4,9 persen
RRI.CO.ID, Jakarta - Volatilitas nilai tukar rupiah masih tinggi akibat dinamika global maupun nasional. Ini terlihat dari pergerakan nilai tukar rupiah yang kembali melemah dalam penutupan perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah ditutup turun 0,21 persen atau 38 poin ke posisi Rp18.111 per dolar AS. Dari eksternal , keputusan the Fed mempertahankan suku bunga masih mempengaruhi sentimen pasar hari ini.
"The Fed mempertahankan Suku Bunga Dana Federal dalam kisaran target saat ini antara 3,50 persen dan 3,75 persen. Namun, dengan suara terpecah 9 banding 3, karena tiga anggota FOMC memilih untuk menaikkan suku bunga," kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Kamis, 30 Juli 2026.
Yang menentang keputusan kebijakan mempertahankan suku bunga adalah Beth Hammack dari Cleveland Fed, Neel Kashkari dari Minneapolis Fed, dan Lorie Logan dari Dallas Fed. Sementara itu, Ketua the Fed Kevin Warah mengatakan, pengetatan di pasar telah banyak membantu para pembuat kebijakan.
"Komite the Fed akan segera bertindak jika tekanan inflasi meningkat," ucap Ibrahim mengutip ucapan Warsh. Di sisi lain, konflik di Timur Tengah memanas lagi, antara AS-Iran dan Arab Saudi-Houthi.
Kelompok Houthi masih memberlakukan blokade laut di Selat Bab el-Mandeb terhadap kapal-kapal tanker. Hanya kapal-kapal Tiongkok yang dibolehkan lewat.
Sementara itu, di dalam negeri para ekonom memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 antara 4,8 persen sampai 4,9 persen. Proyeksi itu jauh lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 yang sebesar 5,61 persen.
"Perlambatan ini dipicu tekanan dari tingginya biaya produksi akibat gejolak global. Termasuk pengetatan kebijakan moneter dan ketidakpastian tata kelola fiskal di dalam negeri," ujar Ibrahim.
Sementara itu, angka pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan pada tahun 2026 diprediksi di kisaran 4,9 persen hingga 5,1 persen. Proyeksi pertumbuhan setahun penuh itu juga berada di bawah target pemerintah sebesar 5,4 persen.
Pasar sekarang fokus pada ketidakpastian mengenai suksesi pimpinan bank sentral atau Bank Indonesia. Tekanan fiskal daerah, dan hambatan ekspor mineral juga menjadi perhatian pelaku pasar.
Selain itu, pelaku pasar juga bersiap menyambut rilis data domestik penting pekan depan, termasuk data inflasi bulan Juli, data perdagangan bulan Mei, cadangan devisa dan PDB kuartal kedua serta Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK).
Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 41 point sebelumnya sempat menguat 15 point dilevel Rp.18.114 dari penutupan sebelumnya di level Rp.18.073. Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp.18.110- Rp.18.160.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....