IHSG Berakhir di Zona Hijau, Naik 94,98 Poin

  • 30 Jul 2026 19:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG ditutup menguat 1,56 persen ke level 6.186,36 pada perdagangan Kamis, 30 Juli 2026
  • Pilarmas Investindo Sekuritas menyebut penguatan indeks ditopang kenaikan saham blue chip dan musim rilis laporan keuangan emiten
  • Pelaku pasar tetap mencermati keputusan The Fed mempertahankan suku bunga serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah

RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir menguat di penutupan sesi perdagangan Kamis, 30 Juli 2026. Pergerakan terlihat setelah IHSG ditutup pada posisi 6.186,36 atau naik 94,98 poin (1,56 persen).

Berdasarkan data perdagangan, IHSG sempat bergerak dan menyentuh posisi terendah pada 6.106,55 hari ini. Sejak awal perdagangan, IHSG bertahan di zona hijau setelah dibuka di level 6.110,28.

Pergerakan IHSG didominasi 495 saham menguat, 158 saham melemah, dan 136 saham stagnan. Sementara, aktivitas perdagangan tercatat dengan nilai transaksi mencapai 12,28 triliun.

Untuk volume saham yang diperdagangkan mencapai 26,2 miliar lembar. Dengan frekuensi lebih dari 1,74 juta kali transaksi.

Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai penguatan IHSG dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik sepanjang perdagangan. Menurut Pilarmas, penguatan indeks didukung kenaikan emiten blue chip dan musim rilis laporan keuangan.

"IHSG rebound di tengah tekanan pasar eksternal dan ketidakpastian mengenai suksesi bank sentral Indonesia. Penguatan indeks ditopang kenaikan emiten blue chip dan musim rilis laporan keuangan," kata tim analis, Kamis, 30 Juli 2026.

Dari eksternal, bursa saham Asia bergerak melemah seiring sikap pelaku pasar yang cenderung berhati-hati terhadap aset berisiko. Kondisi tersebut terjadi setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50 hingga 3,75 persen.

Menurut Pilarmas, keputusan tersebut memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan dalam jangka waktu lebih lama. Pasar juga mencermati meningkatnya risiko inflasi akibat kembali memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Pilarmas menyebut tiga anggota Federal Open Market Committee (FOMC) mendukung kenaikan suku bunga pada pertemuan terbaru. Sementara itu, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan keputusan mempertahankan suku bunga bukan merupakan sinyal pelonggaran kebijakan moneter.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap Iran. Hingga kini, Amerika Serikat dan Iran juga belum mencapai kesepakatan terkait Selat Hormuz yang masih dipertahankan Teheran.

Menurut Pilarmas, kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan prospek arah suku bunga global. Pelaku pasar juga mewaspadai potensi gangguan pasokan energi akibat meningkatnya risiko geopolitik.yyv

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....