Presiden Sebut Hilirisasi Kunci Hindari 'Middle Income Trap'

  • 01 Feb 2023 05:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Presiden Joko Widodo menyebut kebijakan hilirisasi industri menjadi kunci bagi Indonesia menghindari jebakan pendapatan kelas menengah (middle income trap). Menurutnya, hilirisasi merupakan strategi besar yang dirancang pemerintah untuk membuat negara-negara besar bergantung kepada Indonesia.

Demikian disampaikan Presiden dalam sambutan pada puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-8 PSI, di Djakarta Theater, Jakarta, Selasa (31/1/2023). "Strategi besar inilah yang sedang dirancang, membangun ekosistem bagaimana negara besar bergantung ke kita, itulah yang kita namakan hilirisasi," ujarnya.

Middle income trap adalah kondisi suatu negara mengalami fenomena stagnasi yang menjadikan negara tersebut kesulitan untuk menaikkan pendapatan perkapitanya. Presiden mencontohkan, middle income trap banyak ditemui di negara-negara kawasan Amerika Latin.

Negara-negara tersebut sudah menjadi negara berkembang sejak tahun 1950-1960. Namun, hingga saat ini terjebak di level yang sama. "Saya enggak usah sebut nama negaranya. Saya pelajari, ini ada apa? Kenapa seperti ini?," ujarnya.

"Kenapa semua negara di sana jadi seperti itu? Itu yang namanya terjebak dalam negara pendapatan menengah, middle income trap. Karena apa? Mereka tidak menawarkan sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh negara lain," ucapnya.

Presiden juga mencontohkan sejumlah negara yang mengalami lompatan usai melakukan hilirisasi. "Saya berikan contoh yang melompat cepat sekali Korea Selatan. Ini ada apa sih bisa lompat spt itu?" ujarnya.

"Mereka bisa membuat komponen-komponen digital yang dibutuhkan oleh negara-negara besar, salah satunya Amerika Serikat," ucapnya.

Selain Korea Selatan, Taiwan juga mengalami lompatan. "Dia (Taiwan, red) bisa bikin yang namanya chip, yang semua perusahaan besar yang berkaitan dengan itu tergantung pada dia. Beli semuanya harus ke dia, ada ketergantungan negara lain kepada Taiwan.

Menurut Presiden, Indonesia punya peluang untuk menciptakan kondisi serupa lewat kekayaan alam Tanah Air. Salah satunya bahan kebutuhan pembuatan baterai kendaraan listrik (EV-battery) atau baterai litium.

"Itu ada komponen dari nikel, tembaga, timah, di situ ada komponen bauksit yang semuanya harus disatukan, integrasikan, sehingga muncul EV-battery. Dan babak selanjutnya ekosistem lebih besar yang namanya mobil listrik, yang ke depan mau nggak mau semua negara akan cari ini," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....