IHSG Naik 1,47 Persen Setelah Pengumuman BI Rate

  • 23 Apr 2025 20:17 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Pasar saham bereaksi positif atas pengumuman Bank Indonesia hari ini yang mempertahankan BI-Rate 5,75 persen. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 1,47 persen (96 poin) ke level 6.634.

Penguatan IHSG ditopang kenaikan harga 437 saham, sementara 202 saham harganya turun dan 320 saham stagnan. Tim Analis Phillip Sekurtitas Indonesia menyebutkan, saham sektor properti naik paling tinggi (2,45 persen).

Saham sektor kesehatan juga naik tinggi (2,22 persen) dan saham sektor finansial naik 1,71 persen. “Tapi masih terjadi aksi jual saham oleh asing sebesar Rp105,59 miliar, dan yang paling banyak dijual adalah saham ICBP, BBRI, BMRI, ADRO dan UNTR,” kata Tim Phillip Sekuritas, Rabu (23/4/2025).

Baca Juga:

Pasar Tunggu Pengumuman BI, IHSG Dibuka Naik Tajam

BI Masih Pertahankan Suku Bunga 5,75 Persen

BI Tahan Suku Bunga, Rupiah Tetap Loyo

Volume saham yang diperdagangkan sebanyak 20,91 miliar lembar saham, dengan frekuensi perdagangan sebanyak 1.273.000 kali transaksi. Sehingga total nilai perdagangannya tercatat Rp13,63 triliun dan kapitalisasi pasar modal menjadi Rp11.512 triliun.

Tim Phillip Sekuritas Indonesia dalam analisisnya juga menyebutkan, indeks saham Asia ditutup menguat sore ini. Beberapa sentimen positif yang mendorong penguatan antara lain pernyataan Presiden Trump bahwa ia tidak berencana memecat Jerome Powell.

Trump juga mengatakan bahwa ia ingin mencapai kesepakatan dagang dengan Tiongkok. Tarif yang akan dikenakan untuk Tiongkok akan lebih rendah dari 145 persen.

Sementara, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan perekonomian AS dan global kemungkinan akan melambat signifikan. Perlambatan itu sebagai dampak kebijakan tarif Trump dan ketidakpastian yang ditimbulkan oleh kebijakan tersebut,

Dalam rilis laporan World Economic Outlook (WEO) terkininya, IMF mengatakan ekonomi global hanya kan tumbuh 2,8% tahun ini. Pertumbuhannya turun dari ramalan pada bulan Januari yang sebsear 3,3 persen

“IMF juga melihat dua ekonomi terbesar di dunia, AS dan Tiongkok, akan melemah. Ekonomi AS hanya akan tumbuh 1,8 persen, turun tajam dari ramalan sebelumnya 2,7%,” ucap Tim Phillip Sekuritas.

Tapi IMF tidak melihat ekonomi AS akan mengalami resesi. Meskipun probabilitas risiko itu terjadi, melonjak dari 25 persen menjadi 40 persen.

Sementara perekonomian Tiongkok, menurut IMF, hanya akan tumbuh 4 persen tahun ini dan tahun depan. Pertumbuhannya lebih rendah dari estimasi semula sebesar 4,6 persen

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....