Analis Ingatkan Dampak Pengumuman Tarif AS Bagi Indonesia

  • 01 Apr 2025 21:06 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Dunia menunggu kepastian kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump yang rencananya akan diumumkan tanggal 2 April 2025. Perihal ini, Pemerintah Indonesia diingatkan perlu melakukan langkah antisipasi terhadap dampaknya.

Sebab, Trump tidak hanya mengenakan kenaikan tarif impor tinggi pada negara tertentu, tapi pada semua negara. Trump menyebut momen 2 April sebagai hari pembebasan Amerika. Jika kenaikan tarif dikenakan pada semua negara, Indonesia mungkin salah satunya.

“Indonesia pasti akan kena juga karena Trump akan mengenakan ke semua negara neraca dagangnya dengan AS mengalami surplus. Komoditas yang mungkin terdampak antara lain batubara, kakao, kopra, dan minyak sawit yang digunakan untuk bahan dasar kosmetika,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Selasa (1/4/2025).

Baca Juga:

Jelang Libur Panjang, Kinerja Perdagangan Saham Meningkat

Menperin: Industri Agro Turut Andil Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat

Akses dan Variasi Produk, Tantangan Industri Keuangan Syariah

"Pemerintah harus melakukan antisipasi menghadapi kenaikan tarif impor yang dikenakan AS. Karena Indonesia termasuk negara yang neraca perdagangannya dengan Amerika Serikat membukukan surplus."

Diungkapkan, berdasarkan data BPS, neraca perdagangan Indonesia dengan AS dari bulan Januari-Februari 2025 surplus sebesar USD3,13 miliar (sekira Rp51,95 triliun). Komoditas penyumbang surplus antara lain mesih dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, pakaian dan aksesorinya (rajutan), serta alas kaki.

“Pemerintah harus mencari pasar-pasar baru untuk mengantisipasi kebijakan kenaikan tarif Trump besok. Indonesia bisa meniru Tiongkok saat menghadapi ancaman kebijakan tarif AS,” ucap Ibrahim.

Menurutnya, saat Tiongkok tidak bisa ekspor ke AS karena dikenakan tarif impor tinggi, Tiongkok agresif mencari pasar alternatif. Sehingga, pasar Indonesia sempat kebanjiran barang dari Tiongkok.

“Indonesia juga harus seperti itu, mencari pasar-pasar lain untuk ekspor selain Amerika Serikat. Supaya pelaku usaha di dalam negeri tidak terkapar karena dikenakan tarif yang mahal,” ujar Ibrahim.

Ia menilai, kenaikan tarif juga akan memicu inflasi tinggi, utamanya di AS, yang dapat mendorong tingkat suku bunga tinggi. Termasuk aksi balasan sejumlah negara terhadap kebijakan tarif Trump yang bisa mendorong terjadinya perang dagang.

Diungkapkan, banyak analis yang menyebut kondisi itu akan berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi global. "Harus hati-hati dengan perlambatan ekonomi global, meski Trump bilang perang dagang tidak akan berdampak pada perlambatan ekonomi global,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....