Rupiah Melemah di Akhir Pekan, Turun 16 Poin

  • 21 Mar 2025 19:08 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Nilai tukar Rupiah berbalik melemah terhadap Dolar AS dalam penutupan perdagangan sore ini, Jumat (21/3/2025). Data Bloomberg menunjukkan, Rupiah melemah 0,10 persen (16 poin) menjadi Rp16.501 per dolar AS.

"Dolar pulih dari kerugian karena pasar semakin yakin bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi. Bahkan ketika The Fed mempertahankan proyeksi pemotongan 50 basis poin pada tahun 2025," kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Jumat (21/3/2025).

Data klaim pengangguran Amerika Serikat juga menunjukkan ketahanan di pasar tenaga kerja. Data ini salah satu pertimbangan Fed untuk pemotongan suku bunga.

Baca Juga:

BI: Peringkat Moody's Tunjukkan Ekonomi Indonesia Resilien

Uang Beredar Bulan Februari Meningkat Jadi Rp9.239,9 Triliun

Analis: Potensi Fluktuasi IHSG Masih Tinggi

Presiden AS Donald Trump berulang kali meminta agar Fed memangkas suku bunga. Tapi, Bank sentral tidak mengisyaratkan pemangkasan suku bunga karena meningkatnya ketidakpastian atas ekonomi, tarif Trump, dan lintasan inflasi.

Sementara Departemen Keuangan Amerika Serikat pada Kamis mengumumkan sanksi baru pada Iran. Sanksi terkait pasokan minyak mentah Iran ke Tiongkok dan merupakan sanksi keempat AS terhadap Iran sejak Trump berkuasa.

Trump mengkampanyekan "tekanan maksimum" terhadap Teheran. Ancamannya menekan ekspor minyak negara tersebut hingga mencapai titik nol.

Dari dalam negeri, Ibrahim mencermati pemeringkatan yang dilakukan lembaga internasional Moody’s Investor Service. Lembaga itu menetapkan peringkat kredit atau sovereign credit rating (SCR) Indonesia pada level Baa2 dengan outlook stabil.

"Lembaga pemeringkat Moody's menilai ekonomi Indonesia tetap resilien didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil. Serta kredibilitas kebijakan moneter dan fiskal yang terjaga," ujar Ibrahim.

Moody's menilai, permintaan domestik yang kuat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 dan 2026. Khususnya dari konsumsi rumah tangga dan investasi.

"Menurut Moody's, penguatan aspek pendapatan pemerintah dan fleksibilitas fiskal, menjadi faktor pendorong peningkatan SCR Indonesia ke depan. Termasuk peningkatan pertumbuhan dan daya saing ekonomi, serta pendalaman pasar keuangan," kata Ibrahim menutup analisisnya.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....