Perdagangan Masih Lesu, IHSG Tertekan ke Level 6.545

  • 11 Mar 2025 21:09 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Perdagangan saham sepanjang hari masih lesu, sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah. Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan IHSG turun 0,79 persen (52 poin) ke level 6.545.

Sebanyak 434 saham harganya turun, 311 saham stagnan dan 212 saham harganya naik. Saham sektor teknologi naik paling kuat (4,01 persen) dan saham sektor bahan baku turun paling dalam (-2,97 persen).

Volume saham yang diperdagangkan sebanyak 19,45 miliar lembar saham dengan frekuensi perdagangan sebanyak satu juta kali transaksi. Total nilai perdagangan tercatat sebesar Rp9,76 triliun dan kapitalisasi pasar hari ini menjadi Rp11.302 triliun.

Baca Juga :

IHSG Berisiko Terkoreksi karena Sentimen Tarif dan Resesi

Rupiah Makin Turun Jadi Rp16.408 per Dolar AS

Perkuat Likuiditas, BEI Luncurkan Transaksi Repo di SPPA

Tim Analis Phillip Sekuritas Indonesia menyebutkan, penurunan IHSG hari ini disertai net sell (jual bersih) oleh investor asing sebesar Rp247,80 miliar. Saham yang paling banyak dijual investor asing adalah BBRI, GOTO, TLKM, INCO dan ADRO.

Tim Phillip Sekuritas mencermati data Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) yang dirilis Bank Indonesia hari ini. Data ini ikut mempengaruhi sentimen pasar modal.

IKK Indonesia pada Februari 2025 turun ke 126,4 dibandingkan IKK Januari sebesar 127,2. IKK Februari terendah sejak November 2024 dan merupakan penurunan dua bulan beruntun, demikian Tim Analis Phillip Sekuritas.

Penurunan IKK, menurut Tim Phillip Sekuritas, mencerminkan melemahnya daya beli masyarakat. Selain itu, menjadi indikasi menyusutnya kelas menengah.

Sementara bursa saham di kawasan Asia hari ini juga ditutup turun. Indeks Nikkei 225 Jepang misalnya, merosot ke level terendah dalam enam bulan terakhir.

Aksi jual di pasar saham berlanjut di tengah meningkatnya kekhawatiran meluasnya perang dagang. Perang dagang dinilai dapat merusak pertumbuhan ekonomi AS dan memicu resesi.

Kekhawatiran ini semakin diperburuk oleh pernyataan Presiden Donald Trump dalam wawancara dengan Fox News. Trump berbicara tentang masa transisi tetapi menolak memprediksi apakah kebijakan tarif dagangnya akan menyebabkan resesi di AS, demikian Tim Phillip Sekuritas.

Melihat kondisi itu, pelaku pasar memperkirakan penurunan suku bunga 85 basis poin oleh bank sentral AS tahun ini. Perkiraannya meningkat dari sebelumnya sebelumnya 75 bps.

Ini mencerminkan spekulasi pelemahan pertumbuhan ekonomi AS. Situasi ini akan memaksa The Fed untuk kembali melonggarkan kebijakan moneternya, menurut Tim Phillip Sekuritas menutup analisisnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....