Rupiah Naik Siginifikan Ditopang Tiga Sentimen Pasar
- 03 Mar 2025 16:58 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta : Nilai tukar rupiah bangkit dari pelemahannya terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan sore ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat signifikan 0,70 persen (115 poin) menjadi Rp16.480 per dolar AS.
Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan setidaknya ada sentimen yang mendorong penguatan rupiah. Yakni mulai berlakunya aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE), data PMI Manufaktur ekspansi dan deflasi di bulan Februari 2025.
"Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2025 tentang tentang Devisa Hasil Ekspor Sumber Saya Alam mulai berlaku 1 Maret 2025. Dalam aturan ini, eksportir diwajibkan menyimpan 100 persen DHE SDA di dalam negeri selama satu tahun," kata Ibrahim, Senin (3/3/2025).
Baca Juga:
Awal Pekan, Rupiah Berpeluang Menguat terhadap Dolar AS
IHSG Diperkirakan Bergerak Konsolidasi Setelah Anjlok
Aturan baru ini bertujuan agar DHE SDA yang masuk bisa memperkuat cadangan devisa Indonesia. Sekaligus memperkuat perekonomian nasional di tengah gejolak pasar dan masih tingginya ketidakpastian.
Sementara data Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia tumbuh signifikan pada Februari 2025 menjadi 53,6. Indeksnya meningkat dibandingkan bulan Januari 2025 yang sebesar 51,9.
"Pertumbuhan PMI didorong oleh meningkatnya permintaan domestik dan optimisme produsen. Kenaikan ini mencerminkan perbaikan yang jelas dalam kesehatan sektor produksi barang," ucap Ibrahim.
Hari ini Badan Pusat Statistik melaporkan perekonomian Indonesia pada Februari 2025 mengalami deflasi 0,48 persen secara bulanan. Indeks Harga Konsumen (IHK) turun dari 105,99 pada Januari 2025 menjadi 105,48 pada Februari.
Dari eksternal, Ibrahim mengatakan para investor bersikap hati-hati menunggu keputusan tarif perdagangan Trump yang akan dirilis minggu ini. Ketidakpastian atas tarif tersebut mengisyaratkan kemungkinan tindakan Trump yang lebih lunak.
"Suasana hati investor juga suram setelah Trump mengumumkan tarif tambahan 10 persen untuk Tiongkok. Selain itu Trump menegaskan kembali jadwal tarifnya berupa pungutan 25 persen terhadap Meksiko dan Kanada," ujarnya.
Di Asia, kata Ibrahim, aktivitas manufaktur Tiongkok tumbuh lebih dari yang diharapkan pada bulan Februari 2026. Bisnis lokal masih diuntungkan dari langkah-langkah stimulus tahun lalu.
Survei swasta menunjukkan hal yang sama pada hari Senin. PMI manufaktur Caixin mencapai titik tertinggi dalam tiga bulan pada bulan Februari.
Pertemuan Dua Sesi Tahunan Tiongkok, yang akan dimulai minggu ini, akan diawasi ketat oleh investor. Merekan ingin mendapatkan sinyal tentang arah ekonomi negara tersebut dan langkah-langkah stimulus potensial.
Pasar mengharapkan otoritas Tiongkok mengumumkan langkah-langkah yang bertujuan untuk menstabilkan ekonomi. Karena pertumbuhan ekonomi yang lambat, kepercayaan konsumen yang lemah, dan penurunan sektor properti yang sedang berlangsung," kata Ibrahim menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....