Rupiah Ditutup Menguat Dipengaruhi Pernyataan Presiden Prabowo

  • 21 Feb 2025 18:14 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan akhir pekan, setelah beberapa hari loyo. Data Bloomberg menunjukkan, rupiah naik 0,15 persen (24,5 poin) menjadi Rp16.313 per dolar AS.

Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, ada sentimen positif di pasar menyusul pernyataan Presiden Prabowo. Kepala negara menyatakan akan meluncurkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) pada Senin lusa.

“Pembentukan Danantara ditujukan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inklusif, dan berkualitas selama lima tahun ke depan. Ucapan Prabowo merujuk pada target pemerintah Indonesia untuk mencapai pertumbuhan sebesar 8 persen di tahun 2029,” kata Ibrahim dalam analisisnya, Jumat (21/2/2025).

Baca Juga:

Rupiah Menguat Akibat Dolar Melemah, Dampak Sentimen Global

IHSG Diperkirakan Lanjutkan Pelemahan Jelang Akhir Pekan

Pemerintah mengklaim bisa menghemat lebih dari 20 miliar dolar AS melalui Danantara, dalam melakukan efisiensi. Penghematan itu disebut-sebut setara dengan 10 persen dari pengeluaran tahunan Indonesia.

Badan ini diharapkan bisa menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi, dengan mengonsolidasikan aset-aset penting dan mengoptimalkan entitas kekayaan negara. Sementara dana yang dikelola jumlahnya diperkirakan lebih dari 900 miliar dolar AS.

“Dana tersebut akan diinvestasikan pada proyek-proyek berkelanjutan yang berdampak besar di berbagai sektor. seperti energi terbarukan, manufaktur, industri hilir, dan produksi pangan,” ucap Ibrahim.

Sementara dari eksternal, Presiden Trump kembali melontarkan ancaman pengenaan tarif sebesar 25 persen untuk sejumlah komoditas. Di antaranya produk mobil, farmasi, semikonduktor, dan kayu yang pengenaan tarifnya paling cepat pada awal April 2025.

"Acaman tarif itu kembali menimbulkan kekhawatiran akan perang dagang global. Karena sebelumnya Trump juga mengancam akan mengenakan tarif timbal balik terhadap mitra dagang utamanya," ucap Ibrahim.

Dari sisi geopolitik, Ukraina berang karena Trump menyalahkan Ukraina sebagai pihak yang memicu konflik tiga tahun lalu. Selain itu, perundingan damai juga hanya dibicarakan antara AS dan Rusia tanpa melibatkan Kyiv.

Sementara Menteri Keuangan AS, Scott Bessent mengatakan, Rusia bisa mendapatkan keringanan sanksi dari AS. Janji itu diberikan berdasarkan kesediaan Rusia untuk berunding guna mengakhiri konflik dengan Ukraina.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....