Akhir Pekan, Rupiah Makin Melemah ke 16.304/Dolar AS
- 31 Jan 2025 16:39 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan akhir pekan ini. Data Bloomberg menunjukkan, rupiah turun 0,30 persen atau 48 poin ke posisi Rp16.304 per dolar AS.
Ancaman Presiden Trump terkait pengenaan tarif perdagangan, masih mempengaruhi pergerakan dolar AS yang berimbas pada mata uang lainnya. Ancaman terbaru Trump adalah mengenakan tarif impor 100 persen terhadap kelompok negara BRICS jika melakukan de-dolarisasi.
“Pelaku pasar mempertimbangkan kemungkinan Trump menerapkan kebijakan itu, bersama perintah eksekutif lainnya. Trump menuntut kelompok negara tersebut untuk tidak menciptakan mata uang sendiri, dan meninggalkan dolar AS,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Jumat (31/1/2025).
Baca Juga:
Dolar AS Cenderung Kuat, Rupiah Duperkirakan Melemah Lagi
Pemerintah Lanjutkan Program Diskon untuk Lebaran 2025
Pemerintah Subsidi Bunga Kredit untuk Sektor Padat Karya
BRICS merupakan kelompok yang beranggotakan negara Brasil, Rusia, India, Tiongkok dan Afrika Selatan. Indonesia baru saja diterima dalam kelompok negara tersebut.
Trump juga mengancam akan mulai memberlakukan tarif impor sebesar 25 persen pada Kanada dan Meksiko pada Sabtu besok. Sebelumnya, Trump sudah menyetujui pengenaan tarif impor 10 persen pada Tiongkok.
“Pelaku pasar mewaspadai akan terjadinya perang dagang global.Di sisi lain, pasar sedang menantikan data Indeks Harga Belanja Personal, yang menjadi data inflasi pilihan The Fed,” ujar Ibrahim.
Di dalam negeri, Ibrahim mencermati pandangan para ekonomi mengenai efisiensi anggaran yang akan dilakukan pemerintah. Efisiensi itu dilakukan untuk membiayai berbagai program pemerintah, utamanya Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Ekonom menilai efisiensi anggaran untuk MBG tidak akan mengerek pertumbuhan ekonomi secara signifikan, bahkan bisa berdampak negatif. Apalagi jika investasi dan ekspor jadi terabaikan, karena pemerintah terlalu fokus pada MBG,” ucap Ibrahim.
Setidaknya ada tiga hal yang mesti diperhatikan jika pemerintah ingin program MBG berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi. Pertama, menggunakan sumber pangan lokal dan tidak menggunakan produk impor.
Kedua, MBG harus mengikutsertakan UMKM dan UMKM yang menjadi peserta program MBG perlu dievaluasi secara berkala. Ketiga, program MBG harus memperhatikan efisiensi anggaran tapi gizi dan kualitas makanannya tidak terpenuhi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....