Akhir Pekan, Penguatan Rupiah Berlanjut ke Rp17.963 per Dolar AS

  • 03 Jul 2026 22:48 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Hari ini rupiah ditutup naik 0,18 persen atau 32 poin menjadi Rp17.963 per dolar AS
  • Faktor penopang penguatan rupiah antara lain perkembangan negosiasi baru antara AS-Iran, harga minyak dunia yang cenderung menurun, data ketenagakerjaan AS
  • Di dalam negeri, Laporan OECD Revenue Statistics in Asia and the Pacific 2026 menyoroti menurunnya penerimaan Pajak Penghasilan di Indonesia

RRI.CO.ID, Jakarta – Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berlanjut hingga penutupan perdagangan hari ini. Data Bloomberg menunjukkan, rupiah ditutup naik 0,18 persen atau 32 poin menjadi Rp17.963 per dolar AS.

Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menyebut faktor eksternal yang sementara ini menopang penguatan rupiah. Diantaranya perkembangan negosiasi baru antara AS-Iran, harga minyak dunia yang cenderung menurun, data ketenagakerjaan AS.

“Negosiasi AS-Iran mengirimkan sinyal yang beragam, sehingg masih menimbulkan risiko geopolitik. Iran menolak desakan AS melepas Selat Hormuz karena sebagai kompensasi pencairan dana milik Iran,” kata Ibrahim, Jumat, 3 Juli 2026.

Sementara itu, Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan data penyerapan tenaga kerja yang melemah di bulan Juni. Yaitu sebanyak 57 ribu, lebih rendah dari eskpektasi sebesar 110 ribu.

“Tingkat pengangguran secara tak terduga menurun menjadi 4,2 persen dari 4,3 persen. Pendatan rara-rata per jam naik menjadi 0,3 persen secara bulanan, dan 3,5 persen secara tahunan,” ujar Ibrahim.

Melihat data ketenagakerjaan yang melemah, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga the Fed juga menurun. Berdasarkan CME Fedwatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga the Fed turun dari 63 persen menjadi 51 persen.

Di dalam negeri, Ibrahim mencermati Laporan OECD Revenue Statistics in Asia and the Pacific 2026. Laporan itu menyebutkan bahwa mesin penerimaan pajak penghasilan (PPh) Indonesia mulai kehilangan tenaga.

Data OECD menunjukkan, penerimaan PPh hanya naik dari Rp 1.061,24 triliun pada 2023 menjadi Rp 1.061,94 triliun pada 2024. Kenaikannya hanya sekitar Rp 700 miliar atau setara 0,07 persen secara tahunan.

“Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan total penerimaan pajak Indonesia. Pada periode yang sama, total penerimaan pajak meningkat dari Rp 2.517,66 triliun menjadi Rp 2.620,67 triliun, bertambah sekitar Rp 103 triliun, ujar Ibrahim.

Menurutnya, pertumbuhan PPh melambat dipengaruhi oleh turunnya penerimaan dari pajak penghasilan badan. OECD mencatat penerimaan pajak korporasi turun dari Rp 829,66 triliun pada 2023 menjadi Rp 818,30 triliun pada 2024,

Tetapi penerimaan dari PPh orang pribadi masih mencatat pertumbuhan. “Setoran dari kelompok ini meningkat dari Rp 231,59 triliun menjadi Rp 243,64 triliun, atau bertambah sekitar Rp 12,05 triliun,” ucap Ibrahim.

PPh merupakan salah satu sumber utama penerimaan negara. Karenanya, penerimaan PPh melambat akan berdampak pada pada pertumbuhan perekonomian .

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....