IHSG Berpeluang Terus Naik Seiring Stabilitas Rupiah
- 23 Jan 2025 11:16 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta : Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang naik terus seiring dengan apresiasi nilai tukar rupiah. Pada Rabu kemarin IHSG ditutup naik signifikan 1,05 persen atau 75 poin ke level 7.257.
"Pada perdagangan hari ini IHSG diperkirakan menguji level resistance di 7.299. Rentang perdagangan di level 7.103 hingga 7.287 dan level support di 7.100," kata Tim Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Kamis (23/1/2025).
Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan, tren penguatan IHSG selama enam hari berturut-turut. "Secara akumulasi, IHSG dalam enam hari menguat 4,25 persen," ujarnya.
Baca Juga :
Perdagangan Saham Bergairah, IHSG Naik ke Level 7.257
Rupiah Terus Menguat hingga Rp16.279 per Dolar AS
Dalam penutupan perdagangan Rabu kemarin, dua saham di sektor perbankan yaitu BMRI dan BBRI masih menjadi unggulan. Sejak penurunan BI rate, kedua saham tersebut menguat masing-masing 13,3 persen dan 11,8 persen.
Berdasarkan catatan Mirae Asset Sekuritas, investor asing kemarin mencatatkan net buying (beli bersih) sebesar Rp293miliar. Pada saat yang bersamaan kemarin, rupiah ditutup di bawah level 16.300 per dolar AS.
"Ini untuk pertama kalinya rupiah berada di bawah level 16.300 sejak penurunan BI rate pekan lalu. Indeks dolar AS kemarin relatif stabil meski agak sedikit menguat ke level 108,2 dibandingkan sehari sebelumnya," ucap Rully.
Sementara imbal hasil obligasi Amerika Serikat (US Treasury) masih mengalami kenaikan. Tenor 10 tahun naik sebesar 3,45 basis poin menjadi 4,61 persen.
"Kami berharap tren kenaikan pasar saham di dalam negeri masih akan berlanjut. Meski mungkin dalam jangka pendek berpotensi untuk terjadi profit taking ( aksi ambil untung )," ujar Rully.
Menurutnya, aalah satu syarat penguatan IHSG berlanjut adalah rupiah yang semakin stabil. Hal ini akan dipengaruhi oleh pergerakan indeks dolar dan imbal hasil US Treasury ke depan.
Dua elemen tersebut, tambah Rully, yang akan mempengaruhi arus modal asing di pasar modal Indonesia. Ke depan masih ada potensi kenaikan volatilitas dalam jangka pendek.
"Karena pasar akan mengamati prospek kebijakan perdagangan internasional yang akan dilakukan oleh Trump. Utamanya terhadap Tiongkok," kata Rully menutup analisisnya
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....