BI Pertahankan Suku Bunga, Rupiah Naik Tipis
- 18 Des 2024 18:58 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan (18/12/2024). Menurut Bloomberg, rupiah naik 0,02 persen atau 3 poin ke posisi Rp16.097 per dolar AS.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pasar merespons positif keputusan Bank Indonesia (BI) terkait suku bunga. Seperti diketahui, BI mempertahankan tingkat suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 6 persen.
"Ini dilakukan di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS," ujarnya. Kebijakan moneter BI memang bertujuan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak makin tingginya ketidakpastian perekonomian global.
Baca Juga: BI Diperkirakan Tahan Suku Bunga, Rupiah Berisiko Melemah
Sebaliknya Ibrahim menyatakan pasar merespons negatif keputusan pemerintah terkait kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen. Hal ini dinilai akan berdampak besar pada ekonomi masyarakat terutama kelompok berpenghasilan rendah.
"Meski pemerintah menyatakan keberpihakannya kepada masyarakat bawah, kenyataannya PPN tetap naik untuk sebagian besar kebutuhan mereka," ucapnya. Ibrahim juga mengkritik perbandingan yang dibuat pemerintah terkait tarif PPN Indonesia dengan negara-negara seperti Kanada, Tiongkok, dan Brasil.
Menurut dia, perbandingan tersebut tidak relevan. "Negara-negata yang disebut pemerintah itu memiliki pendapatan per kapita tinggi dan ekonomi yang stabil," ujarnya.
Baca juga: BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 6 Persen
Dari sisi eksternal, pergerakan rupiah terhadap dolar masih dipengaruhi ekspektasi pemotongan suku bunga The Fed. Bank sentral AS itu secara luas diharapkan menurunkan tingkat suku bunganya sebesar 25 basis poin.
"Namun, fokusnya akan tertuju pada proyeksi ekonomi masa depan versi The Fed dan komentar ketuanya," kata Ibrahim. Selain The Fed, Bank of Japan dan Bank of England juga dijadwalkan menyampaikan keputusan suku bunganya minggu ini.
Sementara di Tiongkok, pemerintah negeri itu disebut-sebut akan menaikkan defisit anggaran menjadi 4 persen. Sebelumnya Beijing menetapkan defisit anggaran sebesar 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) untuk 2025.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....