Tekanan Dolar Menguat, Rupiah Anjlok Lagi

  • 02 Des 2024 17:22 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi perdagangan Senin (2/12/2024). Menurut Bloomberg, rupiah turun 0,37 persen atau 58 poin ke posisi Rp15.905 per dolar AS.

Dolar AS kembali menguat setelah Presiden AS Terpilih, Donald Trump, mengancam negara-negara anggota organisasi multilateral BRICS. Trump mengancam bakal mengenakan tarif 100 persen jika BRICS menggunakan mata uang lain selain dolar AS.

"Ancaman ini merusak mata uang negara-negara tersebut dan mendorong naiknya dolar AS," kata analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi. Menurut dia, para pedagang khawatir dibelakukannya kebijakan proteksionis yang lebih ketat di bawah pemerintahan Trump.

Baca juga: Rupiah Kembali Dibayangi Penguatan Indeks Dolar Hari Ini

Sebelumnya, Trump mengancam pemberlakuan tarif tambahan kepada Tiongkok, Kanada, dan Meksiko, yang dapat memicu kembali perang dagang global. Selain itu, kemungkinan inflasi lebih tinggi dalam jangka panjang di bawah Trump dapat mendorong suku bunga tetap tinggi.

"Kunci prospek suku bunga adalah laporan penggajian November 2024 yang akan dirilis pada Jumat (6/12/2024)," kata Ibrahim. Dia memperkirakan kenaikannya mencapai 195.000 setelah aksi pemogokan Oktober lalu.

"Perkiraan itu bisa direvisi mengingat rendahnya tingkat respons untuk survei tersebut," ujar Ibrahim. Sementara tingkat pengangguran diperkirakan naik menjadi 4,2 persen dari 4,1 persen.

Di Asia, aktivitas manufaktur pada November 2024 meningkat dari perkiraan. Pelaku pasar juga masih menunggu kelanjutan stimulus Beijing di tengah kekhawatiran terjadinya perang dagang.

Baca juga: Kelompok Makanan Pemicu Naiknya Inflasi Bulan November 2024

Dari dalam negeri, Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia berada pada posisi 49,2 per Oktober 2024. Artinya, sektor manufaktur belum naik ke level ekspansi selama empat bulan terakhir.

"Kondisi PMI yang masih stagnan ini tidak terlepas dari daya beli masyarakat yang melemah," ujar Ibrahim. Sehingga, upaya meningkatkan manufaktur harus selaras dengan peningkatan daya beli masyarakat.

Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan inflasi pada November 2024 mencapai 0,30 persen. Ini berarti lebih tinggi dibandingkan Oktober 2024 sebesar 0,08 persen, tetapi lebih rendah dibandingkan November 2023.

Kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar pada November 2024 adalah makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi 0,78 persen. Sedangkan komoditas pendorong inflasi pada kelompok ini adalah bawang merah dan tomat yang masing-masing berkontribusi sebesar 0,10 persen.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....