Apa Itu Cacar Monyet? Gejala, dan Pencegahannya

  • 13 Sep 2024 05:42 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Pada tanggal 14 Agustus 2024, WHO sudah menetapkan Public Health Emergency of International Concern atau Kedaruratan kesehatan masyarakat. Hal itu telah menjadi perhatian global untuk kasus Mpox atau dikenal dengan cacar monyet.

Pernyataan itu disampaikan Maria Frani Ayu Andari Dias, pengajar Ilmu Keperawatan Jiwa di STIKES Suaka Insan, kepada RRI Banjarmasin, Kamis (12/9/2024). Menurut Maria WHO sudah melaporkan bahwa telah tercatat 99 ribu kasus dan 208 kematian yang terjadi di dunia, termasuk 88 Kasus Mpox di Indonesia.

Kasus yang ditemukan di Indonesia, tersebar di beberapa wilayah di Indonesia seperti Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Kepulauan Riau, dan Daerah Instimewa Yogyakarta (DIY).

Maria juga mengatakan, untuk wilayah Kalimantan Selatan, meskipun beberapa waktu yang lalu ada berita suspect pasien dengan Mpox, tetapi hasil pemeriksaan masih menunjukkan hasil negatif.

"Dalam menghadapi keadaan darurat terkait infeksi Mpox, kita harus waspada terhadap berbagai aspek yang dapat mempengaruhi kesehatan mental dan fisik kita," ucap Maria.

Ilustrasi cacar monyet. (Foto: freepik).

Menurut Maria, salah satu hal utama yang perlu diwaspadai adalah rasa cemas yang muncul akibat berita atau informasi yang berkembang cepat. Dalam situasi seperti ini, penting untuk memastikan bahwa kita mendapatkan informasi dari sumber yang tepercaya agar tidak mudah panik dan bisa bertindak dengan lebih rasional.

Selain itu, kita harus waspada terhadap interaksi sosial, terutama dengan orang yang mungkin menunjukkan gejala-gejala seperti ruam atau demam. Dalam hal ini, menjaga jarak dan menghindari kontak fisik dengan orang yang bergejala menjadi langkah penting untuk melindungi diri.

Meskipun sulit untuk menjaga jarak dalam beberapa situasi, hal ini perlu diperhatikan dengan serius.

"Penting juga untuk mempersiapkan mental dalam menghadapi potensi isolasi. Isolasi dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis, dan oleh karena itu kita perlu merencanakan cara untuk menjaga koneksi sosial, misalnya melalui teknologi, seperti telepon atau video call, sehingga kita tetap merasa terhubung dengan keluarga dan teman," ujarnya.

Menjaga kebersihan pribadi dikatakan Maria adalah hal yang tidak bisa diabaikan. Sebagai langkah pencegahan, kita perlu selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir serta menghindari menggunakan barang-barang pribadi orang lain.

Hal ini sederhana, tetapi sangat efektif dalam mencegah penyebaran infeksi.

"Lebih jauh lagi, kita harus menjaga kesehatan tubuh secara umum dengan menerapkan pola hidup sehat. Makan makanan bergizi, cukup istirahat, dan melakukan olahraga ringan di rumah bisa membantu meningkatkan daya tahan tubuh, yang sangat penting dalam melawan infeksi," ucapnya.

Maria juga menjelaskan, tidak kalah pentingnya adalah menjaga kesehatan mental. Stres yang berlebihan akibat kekhawatiran tentang penyebaran penyakit dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh.

Selain itu mengatur pola pikir yang positif, meditasi, atau kegiatan yang menenangkan seperti membaca dan menulis bisa menjadi solusi untuk mengurangi stres.

"Kita juga harus siap untuk mengakses layanan kesehatan jika dibutuhkan. Mengetahui kapan dan di mana harus mencari bantuan medis adalah langkah penting untuk memastikan bahwa kita mendapatkan perawatan yang tepat jika terinfeksi. Simpan nomor kontak darurat dan pastikan Anda tahu lokasi fasilitas kesehatan terdekat," katanya, menjelaskan.

Akhirnya, kesiapan mental untuk menghadapi ketidakpastian adalah kunci. Dalam situasi darurat kesehatan seperti ini, kita harus tetap fleksibel dalam merespons perubahan dan terus beradaptasi dengan keadaan yang dinamis.

"Dengan ketenangan, pengetahuan, dan kewaspadaan, kita dapat melewati masa darurat ini dengan lebih baik," ucap Maria.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....