Waspada! Temuan Kasus HIV di Banyumas Tergolong Tinggi

  • 09 Sep 2024 09:42 WIB
  •  Purwokerto

KBRN, Banyumas: Pada tujuh bulan pertama di tahun 2024, temuan kasus baru HIV/AIDS di Kabupaten Banyumas telah mencapai angka 209 orang. Jumlah ini tergolong tinggi jika dibandingkan dengan lima tahun terakhir.

Padahal rata-rata temuan kasus per tahun di Banyumas biasanya ada di angka 200an jiwa. Pengelola Program dan Monev Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Banyumas, Neto Andriyanto, SKM mengatakan temuan paling banyak berada pada rentang usia 20 – 40 tahun.

Data yang diterima RRI, temuan kasus HIV/AIDS pada lima tahun terakhir di Banyumas yakni tahun 2019 ada 327 orang, tahun 2020 ada 267 orang, tahun 2021 ada 181 orang. Lalu pada tahun 2022 ada 245 orang, dan tahun 2023 ada 243 orang.

Temuan kasus HIV/AIDS di Banyumas dalam 5 tahun terakhir (Source: KPA Kabupaten Banyumas)

“Baru sampai Bulan Juli sudah sampai 200, mungkin sampai akhir tahun bisa lebih dari 300. Banyumas di lima tahun terakhir ini untuk kelompok tenaga kerja dan buruh termasuk tinggi. Di Jawa Tengah tahun 2023 kemarin kita terbanyak nomor 3,” katanya.

Namun demikian, banyaknya temuan kasus HIV/AIDS di Banyumas justru menunjukkan kesigapan pemerintah dalam melakukan secreening dan pencegahan. Jika suatu daerah temuan kasusnya sedikit, bisa jadi karena tidak banyak dilakukan screening di daerah tersebut.

“Semua Puskesmas itu sudah siap melakukan tes HIV. Jadi dengan banyaknya layanan dan seringnya dilakukan pendeteksian HIV akhirnya banyak ditemukan kasus. Sama seperti saat pandemi Covid-19 kemarin, Banyumas kasus Covid-nya tinggi bukan berarti penyebarannya masif, tapi karena kita banyak menemukan kasus,” ungkap Neto.

Temuan kasus HIV/AIDS periode Januari - Juli 2024 di Banyumas (Source: KPA Kabupaten Banyumas)

Neto menambahkan, untuk akumulasi total saat ini Banyumas diperkirakan mencapai 3.300 kasus aktif HIV/AIDS di Banyumas. Sayangnya dari jumlah tersebut baru sebanyak 1.200an penderita HIV/AIDS yang aktif melakukan pengobatan.

“Jika mereka aktif berobat itu kan nanti virus HIV nya akan lebih bisa dikendalikan. Jangan sampai virusnya yang mengendalikan tubuh penderita dan mengakibatkan kematian,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....