Ini Alasan Pria Tidak Menangis

  • 28 Mei 2024 19:57 WIB
  •  Denpasar

KBRN,Denpasar:Di masyarakat umumnya bila ada pria menangis ,langssung dicap sebagai cengeng.

Sebaliknya bila wanita yang melakukan hal itu, dianggap wajar dan biasa-biasa saja.

Namun faktanya memang bahwa pria jarang sekali menangis.

Kalaupun ada, maka pria melakukannya di tempat yang tidak terlihat banyak orang.

Misalnya dalam kamar. Jarang sekali pria melakukannya di tempat umum.

Benarkah seperti itu?

Mari kita telusuri faktanya, seperti yang dikutip dari buku berjudul: The Psychology of Woman, Karena Wanita Ingin Mengerti dan Dimengerti ,karya: Nevzat Tahran, 2023.

Dikatakan bahwa aktivitas otak dalam mengatur emosi pada pria tidak bekerja dengan cara yang sama seperti pada wanita.

Pria cenderung menjadi lebih mengutamakan logika dan matematika.

Sedangkan wanita lebih cenderung pada seni dan sastra.

Dalam hal yang berhubungan dengan emosi dan pekerjaan yang memerlukan perasaan yang lebih mendominasi, wanita cenderung lebih sukses.

Pria merasa bahwa menangis adalah tanda kelemahan sehingga mereka cenderung menghindarinya, menganggap bahwa menangis akan bertentangan dengan peran dan identitas maskulinitas.

Asumsi biologis bahwa “menangis membuat seorang tidak menjadi pria sejati: didukung secara sosial.

Pendekatan ini yang berlangsung selama berabad-abad tidak hanya dapat dijelaskan oleh faktor budaya semata.

Disini dimensi biologis dan genetik juga harus diperhatikan.

Pola pikir maskulinitas dan budaya patriarki yang didukung dan diperkuat oleh ajaran, menuntut pria mengambil peran sebagai pemburu yang harus berjuang dan bertahan dari penderitaan.

Mereka diharapkan memiliki ketahanan lebih tinggi terhadap ketakutan.

Oleh karena menangis dianggap akan mengurangi kemampuan untuk menghadapi ketakutan, secara filosofis diajarkan bahwa pria seharusnya tidak menangis.

Sementara itu muncul pemikiran bahwa mengekspresikan kelemahan atau perasaan wanita, dapat memberdayakan wanita.

Pria lebih suka pada wanita yang menangis.

Ini karena ketika seorang wanita menangis, pria merasa bahwa wanita itu mencari perlindungan pada pria tersebut, dan dorongan untuk melindunginya akan semakin kuat, yang pada gilirannya akan meningkatkan ego sang pria.

Terutama wanita yang cenderung feminis, bahkan bisa marah pada diri sendiri ketika menangis.

Namun meskipun mereka berpikir “Bagaimana aku bisa menangis” Bagaimana aku bisa menjadi lemah dihadapan pria?”

Mereka tetap tidak bisa menahan diri dari menangis.

Sebagai contoh dalam terapi keluarga, pasangan sering sekali mengungkapkan masalah mereka dengan cara yang berbeda.

Reaksi pria cenderung berseru, sementara reaksi wanita cenderung menangis.

Wanita yang menangis bisa menjadi pekerja, memiliki tingkat intelektual yang tinggi, dan merasa independen.

Situasi ini juga terjadi dalam dunia kerja.

Wanita bahkan ketika menjadi perdana menteri, masih bisa menangis ketika sesuatu tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Dalam hal ini, penjelasan yang lebih akurat lebih terkait dengan kecenderungan biologis dalam merespon situasi daripada psikologi gender pria dan wanita.

Algoritma genetik menunjukkan fenomena ini.

Karena dominasi budaya patriarki pria dalam sejarah manusia, tangisan wanita cenderung lebih diterima oleh pria.

Namun tangisan pria dianggap tidak pantas dan ide dikuatkan oleh ajaran-ajaran.

Itulah alasan mendasar mengapa pria tidak menangis.




Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....