UNAIDS Ungkap Ada Ketimpangan Pendanaan Program Pencagahan HIV/AIDS

  • 29 Nov 2023 07:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Masih terdapat ketidakseimbangan dalam pendanaan pada Program Pencegahan HIV/AIDS di Indonesia. Hal ini disampaikan, Direktur United Nations Programme on HIV and AIDS (UNAIDS) untuk Indonesia, Tina Boonto.

“Sangat sulit untuk mengakhiri AIDS ini tak lepas dari anggapan bahwa komunitas termasuk ke dalam masalah yang perlu ditangani. Padahal komunitas dan masyarakat sipil memiliki peran vital dari kampanye hingga pengobatan HIV, sampai memastikan hak-hak dasar teman-teman dengan HIV/AIDS agar kebutuhannya terpenuhi,” kata Tina Boonto dalam keterangan resmi, Rabu (29/11/2023).

Tahun 2023, katanya, Komisi Nasional (Komnas) HAM membentuk mekanisme akuntabilitas Hak Asasi Manusia (HAM) untuk diskriminasi berbasis HIV. Menurutnya, setiap orang yang mengalamai diskriminasi berbasis HIV dapat mengajukan pelaporan dan pengaduan kepada Komnas HAM.

"Sekarang, setiap orang yang mengalami diskriminasi berbasis HIV dapat mengajukan pelaporan dan pengaduan kepada Komnas HAM. Hal ini dilakukanuntuk mendapatkan akses ke keadilan dan upaya pemulihan hak," kata Tina.

Sementara, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi mengatakan komunitas mempunyai peran penting dalam menangani HIV/AIDS. Komunitas juga dapat mengajak teman-teman dengan HIV/AIDS untuk mengakses pengobatan di fasilitas kesehatan hingga mengingatkan mereka untuk terus mengonsumsi obat secara rutin.

"Peran komunitas sangat penting, utamanya untuk mendukung temuan kasus pada kelompok populasi kunci teman-teman HIV/AIDS. Dalam konteks ini, komunitas yang memimpin harus bersama-sama dan bermitra, karena kita tidak bisa sendirian untuk mengakhiri zero AIDS di tahun 2030," kata Imran.

Hingga saat ini, kata Imran, masih terdapat batasan mulai ditemukan kasus HIV sampai dengan pasien mendapatkan pengobatan. Berdasarkan data dari Kemenkes, progres capaian program 95-95-95 program HIV/AIDS untuk mencapai 3 zero sampai dengan September 2023.

"Inilah pentingnya kolaborasi petugas kesehatan dengan komunitas, jadi sedini mungkin memasukkan mereka ke fasilitas kesehatan agar segera mendapatkan ARV atau ARV tersupresi. Tercatat ada 515.455 estimasi ODHIV, dengan 454.723 ODHIV yang hidup dan mengetahui kasusnya, dan 209.288 ODHIV mengetahui kasus dan sedang mendapatkan pengobatan ARV,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....