Mengenal Ikan Sidat, Ikan dengan Omega-3 Tertinggi Kalahkan Salmon
- 05 Okt 2026 09:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ikan sidat memiliki kandungan Omega-3 yang lebih tinggi dibandingkan salmon, menjadikannya sumber pangan unggulan dengan nilai gizi superior.
- DHA dalam sidat berperan penting untuk perkembangan dan fungsi otak, sedangkan EPA membantu mengurangi peradangan dan menjaga kesehatan jantung.
- Peneliti Ahli Utama BRIN, Gadis Sri Haryani, mengungkapkan kandungan gizi sidat sebagai salah satu keunggulan kompetitif ikan air tawar ini dalam kategori pangan bergizi.
RRI.CO.ID, Jakarta - Ikan sidat dikenal memiliki kandungan Omega-3 sangat tinggi, bahkan disebut memiliki nilai gizi lebih tinggi dibandingkan salmon. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Gadis Sri Haryani, mengungkapkan kandungan gizi sidat menjadi salah satu keunggulan ikan tersebut sebagai sumber pangan.
Kandungan Omega-3 pada sidat terdiri atas DHA (docosahexaenoic acid) dan EPA (eicosapentaenoic acid). DHA berperan penting dalam perkembangan dan fungsi otak, sedangkan EPA membantu mengurangi peradangan serta menjaga kesehatan jantung.
Selain Omega-3, ikan sidat juga mengandung sejumlah nutrisi penting. Di antaranya protein, vitamin A, vitamin B kompleks, zat besi, fosfor, dan kalori.
Kandungan tersebut membuat sidat berpotensi menjadi salah satu sumber pangan bergizi. Ikan ini juga memiliki nilai ekonomi bagi sektor perikanan Indonesia.
Bukan Belut
Meski bentuk tubuhnya memanjang dan sekilas menyerupai belut, sidat merupakan jenis ikan yang berbeda. Sidat termasuk famili Anguillidae, sedangkan belut masuk famili Synbranchidae.
Dikutip dari laman Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo, perbedaan itu dapat dilihat dari ciri fisiknya. Sidat memiliki sirip punggung, sirip dada, dan sirip dubur yang berkembang dengan baik.
Sirip dada sidat terletak di belakang kepala sehingga ikan ini juga dikenal dengan sebutan "belut bertelinga". Sementara belut tidak memiliki sirip punggung, dada, dan dubur seperti sidat.
Perbedaan lainnya terdapat pada bagian kulit. Sidat memiliki sisik kecil yang tersusun membujur ke arah belakang tubuh.
Sementara, belut memiliki kulit berlendir tanpa sisik. Warna tubuh sidat umumnya abu-abu gelap pada bagian punggung dan keputihan pada bagian dada serta perut.
Indonesia Punya Tujuh Jenis Sidat
Indonesia menjadi salah satu negara dengan keanekaragaman sidat. Dari sekitar 18 jenis sidat yang ada di dunia, diperkirakan tujuh jenis di antaranya terdapat di Indonesia.
Ketujuh jenis tersebut terbagi dalam dua kelompok berdasarkan panjang sirip punggungnya. Kelompok pertama merupakan sidat dengan sirip punggung pendek.
Kelompok tersebut terdiri atas Anguilla bicolor dan Anguilla bicolor pacifica. Sementara kelompok sidat bersirip punggung panjang terdiri atas Anguilla borneensis, Anguilla marmorata, Anguilla celebensensis, Anguilla megastoma, dan Anguilla interioris.
Salah satu jenis yang dikenal di Indonesia adalah Anguilla bicolor. Jenis tersebut juga menjadi bagian dari sumber daya sidat yang memiliki potensi untuk dikembangkan.
Sidat Termasuk Ikan Karnivora
Sidat merupakan ikan karnivora yang aktif mencari makanan pada malam hari atau bersifat nokturnal. Di perairan umum, sidat memangsa berbagai organisme yang hidup di dasar perairan.
Makanan sidat antara lain organisme bentik seperti udang dan kepiting. Aktivitas mencari makan tersebut umumnya berlangsung ketika kondisi perairan mulai gelap.
Sidat Tumbuh di Air Tawar
Siklus hidup sidat memiliki keunikan karena melibatkan perairan laut dan tawar. Sidat tumbuh di perairan tawar seperti sungai dan danau hingga mencapai fase dewasa.
Setelah dewasa, sidat akan bermigrasi atau beruaya menuju laut dalam untuk melakukan reproduksi. Karena itu, keberlangsungan hidup sidat bergantung pada keterhubungan ekosistem perairan.
Sidat memiliki siklus hidup katadromus. Artinya, ikan tersebut menghabiskan sebagian besar fase pertumbuhannya di perairan tawar sebelum menuju laut untuk berkembang biak.
Larva tersebut kemudian melakukan perjalanan dari perairan laut dalam menuju estuari atau wilayah muara sungai. Dalam proses tersebut, bentuk tubuhnya berubah menjadi sidat kaca atau glass eel.
Setelah memasuki perairan tawar, sidat melanjutkan pertumbuhan hingga dewasa. Pada fase berikutnya, sidat kembali bermigrasi menuju laut dalam untuk melakukan reproduksi.
Populer sebagai Unagi
Sidat juga memiliki nilai ekonomi dan budaya yang kuat di sejumlah negara. Di Jepang, ikan sidat dikenal dengan sebutan unagi dan menjadi salah satu bahan pangan yang populer.
Di Indonesia, keberadaan sidat di berbagai wilayah perairan memberikan peluang untuk pengembangan sektor perikanan. Kandungan gizi yang tinggi turut memperkuat nilai sidat sebagai komoditas pangan.
Namun, potensi tersebut perlu diikuti dengan pengelolaan yang berkelanjutan. Pemanfaatan sidat secara berlebihan dapat mengancam keberlangsungan populasinya di alam.
Gadis mengingatkan pemanfaatan sumber daya sidat perlu dilakukan berdasarkan kajian ilmiah. Pengelolaan berbasis sains diperlukan agar nilai ekonomi dan potensi pangan sidat dapat dikembangkan tanpa mengabaikan kelestarian sumber daya.
Dengan kandungan Omega-3 yang tinggi, nutrisi yang beragam, serta siklus hidup yang unik, ikan sidat tidak hanya menarik dari sisi pangan. Sidat juga menjadi salah satu sumber daya perikanan Indonesia yang memiliki potensi ekonomi dan perlu dijaga keberlanjutannya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....