Gaya Hidup Perkotaan Picu Risiko Demensia pada Usia Dini

  • 04 Okt 2026 16:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Dokter Spesialis Neurologi dari Universitas Lambung Mangkurat menjelaskan bahwa gaya hidup tertentu dapat memicu gangguan fungsi otak pada usia produktif.
  • Penyakit yang mempengaruhi fungsi otak berhubungan erat dengan kebiasaan sehari-hari dan pilihan gaya hidup yang tidak sehat.
  • Pemahaman tentang kebiasaan pemicu penyakit jantung menjadi semakin penting dalam konteks perayaan Hari Jantung Sedunia untuk meningkatkan kesadaran kesehatan masyarakat.

RRI.CO.ID, Jakarta – Dokter Spesialis Neurologi Universitas Lambung Mangkurat, Dewiyana, menjelaskan penyebab gangguan fungsi otak pada usia produktif. Menurutnya, gaya hidup tertentu dapat memicu berbagai penyakit yang berdampak pada fungsi otak.

Dewiyana mengatakan, Demensia dini merupakan gangguan fungsi kognitif yang muncul sebelum seseorang mencapai usia 60 hingga 65 tahun. Kondisi tersebut dapat berkembang hingga mengganggu aktivitas dan kemandirian seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

“Gaya hidup perkotaan kan jelas stresornya lebih tinggi. Di perkotaan itu diperlukan gaya hidup yang serba cepat, penuh tekanan karena tuntutan,” kata Dewiyana dalam perbincangan Bersama Pro3 RRI, Minggu, 4 Oktober 2026.

Menurutnya, tekanan kehidupan perkotaan dapat memengaruhi kualitas tidur dan pola makan masyarakat. Kondisi tersebut juga membuat aktivitas olahraga menjadi lebih jarang dilakukan.

“Kondisi ini mengganggu kualitas tidur. Pola makan yang maunya fast food serba cepat, kurang serat ya, olahraga mungkin sangat jarang,” ujarnya.

Ia mengatakan kebiasaan tersebut dapat memicu berbagai penyakit yang berhubungan dengan gangguan fungsi otak. Penyakit tersebut antara lain hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, dan penyakit jantung.

“Semua kondisi-kondisi ini, memicu kasus-kasus hipertensi di usia muda. Kemudian penyakit jantung di usia muda, diabetes melitus di usia muda,” kata Dewiyana.

Menurut dia, berbagai penyakit tersebut dapat mengganggu aliran darah dan kemudian berdampak terhadap fungsi otak. Kondisi itu menjadi salah satu penyebab gangguan fungsi kognitif pada kelompok usia produktif.

“Gangguan fungsi otak ini bisa paling banyak disebabkan gangguan aliran darah di sana. Bisa disebabkan karena hipertensi, kadar gula darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, atau stroke,” jelasnya.

Dewiyana menyebut penyakit yang dahulu lebih banyak ditemukan pada usia lanjut kini mulai bergeser. Kondisi tersebut bahkan mulai ditemukan pada masyarakat berusia di bawah 50 tahun.

“Sekarang mulai bergeser, jadi banyak ditemui usia-usia di bawah 50 tahun. Bahkan di bawah 40 tahun sudah mulai banyak,” ujarnya.

Ia mencontohkan seorang pasien berusia 32 tahun yang mengalami stroke setelah memiliki hipertensi selama lima tahun. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan penyakit yang berkaitan dengan gangguan otak semakin ditemukan pada usia muda.

Untuk mencegah gangguan fungsi otak, Dewiyana menganjurkan masyarakat mulai memperhatikan pola hidup sejak usia muda. Kebiasaan tersebut mencakup makanan bergizi, olahraga teratur, tidur berkualitas, dan menjaga interaksi sosial.

“Yang pertama nutrisi yang seimbang. Makan nutrisi yang seimbang itu artinya makanan yang sehat, jangan mengikuti tren,” kata Dewiyana.

Ia juga menekankan pentingnya olahraga teratur karena membantu melancarkan aliran darah dalam tubuh. Olahraga dapat membantu memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi yang diperlukan otak.

“Yang kedua, ini wajib nih, kalau bisa usahakan olahraga yang teratur. Dengan olahraga yang teratur itu, aliran darah di dalam tubuh kita juga lancar,” ujarnya.

Dewiyana juga mengingatkan masyarakat pentingnya menjaga kesehatan mental sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan otak. Kesehatan fisik dan mental perlu dijaga untuk membantu mencegah gangguan fungsi otak sejak usia muda.

Ia berharap masyarakat mulai memperhatikan pola hidup sehari-hari untuk menjaga fungsi otak tetap optimal. Kebiasaan sehat tersebut diharapkan dapat membantu menunda atau mencegah gangguan fungsi memori. (Nikita Yunistia Maryam)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....