RS Siloam Kebon Jeruk Jadi Rumah Sakit Swasta Pertama Terapkan LVAD

  • 29 Sep 2026 13:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Siloam Hospitals Kebon Jeruk menjadi rumah sakit swasta pertama di Indonesia yang berhasil memasang HeartMate 3 LVAD untuk terapi gagal jantung stadium lanjut.
  • Left Ventricular Assist Device (LVAD) adalah salah satu terapi yang dapat digunakan pada pasien gagal jantung stadium lanjut dengan tingkat keberhasilan yang terbukti.
  • Teknologi HeartMate 3 LVAD telah digunakan di dunia selama lebih dari 10 tahun dan bukan merupakan inovasi baru, namun ini merupakan pencapaian signifikan untuk sektor kesehatan swasta Indonesia.

RRI.CO.ID, Jakarta – Siloam Hospitals Kebon Jeruk tercatat sebagai rumah sakit swasta pertama di Indonesia yang berhasil memasang HeartMate 3 LVAD. Left Ventricular Assist Device (LVAD) merupakan salah satu terapi yang dapat digunakan pada pasien gagal jantung stadium lanjut.

Advanced Heart Failure Consultant, dr. Leonardo Paskah Suciadi, Sp.JP, menjelaskan teknologi LVAD ini bukan merupakan teknologi baru. Teknologi ini sudah digunakan di dunia selama lebih dari 10 tahun.

“LVAD memberikan pilihan terapi bagi pasien gagal jantung lanjut yang membutuhkan penanganan lebih kompleks. Sebelumnya, pasien dalam kondisi tersebut memiliki pilihan terbatas, termasuk transplantasi jantung atau perawatan paliatif,” ujarnya dalam acara Konferensi Pers Siloam Hospitals Kebon Jeruk: A Heartbeat of History di Jakarta, Selasa, 29 September 2026.

“Data menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup pasien tanpa alat pada gagal jantung lanjut tidak mencapai 50 persen dalam satu tahun. Sementara itu, pasien pengguna LVAD memiliki tingkat kelangsungan hidup sekitar 64 persen dalam lima tahun,” katanya.

Ia menjelaskan angka tersebut mengacu pada data internasional mengenai penggunaan LVAD pada pasien gagal jantung lanjut. Pada pasien berusia 50 tahun ke bawah, tingkat kelangsungan hidup lima tahun dilaporkan mencapai 76 persen.

“Sekitar 10 persen pasien gagal jantung dapat berkembang menjadi gagal jantung stadium lanjut. Pada tahap tersebut, obat-obatan sering kali tidak lagi mencukupi,” ujarnya.

Leonardo menambahkan pengobatan gagal jantung perlu dioptimalkan sebelum kondisi pasien berkembang menjadi stadium lanjut. Ia menyebut sebagian besar obat modern untuk menangani gagal jantung sudah tersedia di Indonesia.

“Kesadaran masyarakat tentang gagal jantung masih sangat rendah. Banyak orang lebih mengenal penyakit jantung koroner dan pemasangan cincin daripada gagal jantung,” katanya.

Menurutnya, keterlambatan mengenali gagal jantung dapat memengaruhi penanganan dan perkembangan kondisi pasien. Karena itu, ia menekankan pentingnya edukasi masyarakat dan deteksi dini untuk mengoptimalkan perawatan.

Ia juga menyoroti keterbatasan tenaga medis yang memiliki pendidikan khusus dalam penanganan gagal jantung lanjut. Ia menyebut hanya enam dokter Indonesia yang telah menyelesaikan pendidikan subspesialis gagal jantung di luar negeri.

“Penerapan teknologi ini menghadapi beberapa tantangan di Indonesia. Salah satunya adalah biaya perangkat yang sangat mahal,” ujarnya.

Selain biaya, pengembangan layanan LVAD membutuhkan tim multidisiplin dengan kompetensi yang memadai. Persiapan tersebut mencakup pelatihan dokter, tim bedah, serta tenaga kesehatan yang mendukung perawatan pasien.

Ia menilai pengembangan layanan gagal jantung perlu berjalan beriringan dengan penggunaan teknologi LVAD. Ia juga menekankan pentingnya penguatan layanan komprehensif sebelum pasien memasuki tahap gagal jantung stadium lanjut.

Untuk Diketahui, keberhasilan ini merupakan hasil persiapan panjang tim medis. Managing Director Siloam Hospitals Group, dr. Grace Frelita, mengatakan rumah sakit berkomitmen mengembangkan layanan untuk membantu pasien gagal jantung.

“Bukan ambisi untuk meraih jalan pertama yang kami harapkan. Keyakinan kami adalah bahwa di balik setiap langkah pertama, ada orang-orang yang bisa kita selamatkan,” katanya.

Grace menjelaskan rumah sakit membangun layanan gagal jantung melalui persiapan dan pengembangan kemampuan tim medis. Menurutnya, LVAD menjadi pilihan bagi pasien gagal jantung stadium lanjut yang menghadapi keterbatasan akses transplantasi jantung. (Davina Keisha Salsabila)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....