IDAI Ingatkan Pentingnya Pertolongan Pertama Keracunan Anak
- 12 Sep 2026 12:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IDAI mengingatkan orang tua untuk segera memberikan pertolongan pertama ketika anak diduga mengalami keracunan makanan guna mencegah kondisi memburuk.
- Dehidrasi akibat muntah dan diare adalah kondisi utama yang perlu dicegah pada anak keracunan makanan, bukan semata-mata dari kumannya.
- Penanganan meliputi pemberian oralit sedikit-sedikit tapi sering, melanjutkan pemberian ASI dan makanan, serta memantau frekuensi berkemih anak.
RRI.CO.ID, Jakarta - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orang tua segera memberikan pertolongan pertama ketika anak diduga mengalami keracunan makanan di rumah. Langkah tersebut penting dilakukan untuk mencegah kondisi anak memburuk akibat kehilangan cairan selama mengalami keracunan makanan.
Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, Dr. Yogi Prawira menyebut kehilangan cairan akibat muntah dan diare menjadi kondisi utama yang perlu dicegah pada anak. Menurutnya, pencegahan dehidrasi penting dilakukan untuk menghindari kondisi kesehatan anak semakin memburuk akibat keracunan makanan.
“Yang membahayakan anak adalah kehilangan cairan, bukan hanya kumannya. Kita bisa beri oralit sedikit-sedikit tapi sering, ASI dan makanan diteruskan, pantau anak berapa kali berkemih,” kata Yogi Prawira dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu, 12 September 2026.
Yogi menjelaskan keracunan makanan dapat terjadi setelah anak mengonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi bakteri. Kontaminasi juga dapat berasal dari racun, virus, parasit, maupun bahan kimia berbahaya.
Gejala yang umum muncul antara lain mual, muntah, nyeri perut, serta buang air besar cair atau berdarah. Orang tua juga perlu mewaspadai gejala tidak khas seperti demam, sakit kepala, pusing, pandangan kabur, kelemahan anggota gerak, dan kesemutan.
“Sebagian besar kasus keracunan makanan pada anak disertai tanda dehidrasi seperti mulut kering dan tubuh lemas, termasuk pusing. Orang tua perlu memperhatikan frekuensi buang air kecil serta warna urine anak yang menjadi indikator kondisi dehidrasi,” ucap Yogi.
Yogi meminta orang tua untuk menghentikan konsumsi makanan yang diduga menjadi sumber keracunan jika anak mengalami tanda dehidrasi. Sisa makanan tersebut sebaiknya disimpan dan tidak dibuang untuk membantu penelusuran penyebab keracunan secara lebih lanjut.
“Orang tua dapat memberikan oralit sedikit demi sedikit untuk mencegah dehidrasi semakin parah pada anak. Muntah bukan alasan berhenti memberi cairan, tetapi pemberiannya diperlambat dan bukan dihentikan,” ujarnya.
Ia menegaskan pemberian ASI dan makanan tetap dilanjutkan sesuai kemampuan anak. Menurutnya, menghentikan makanan atau membuat anak berpuasa tidak mempercepat proses penyembuhan.
Setelah muntah mereda, anak dapat diberikan makanan lunak dalam porsi kecil, seperti bubur, pisang, atau roti. Anak juga perlu mendapatkan waktu istirahat yang cukup dan dipantau frekuensi buang air kecilnya.
“Orang tua sebaiknya tidak membuat larutan oralit sendiri menggunakan garam di rumah karena takarannya harus tepat. Takaran garam yang berlebihan dapat meningkatkan kadar elektrolit dan membahayakan kondisi kesehatan anak,” ujar Yogi.
Selain itu, orang tua tidak dianjurkan merangsang anak untuk muntah ataupun memberikan arang aktif tanpa arahan tenaga medis. Yogi juga meminta orang tua tidak memberikan obat penghenti diare maupun antibiotik atas inisiatif sendiri.
“Jangan juga memberi antibiotik atas inisiatif sendiri. Batasi sementara susu sapi, teh dan kopi pada anak besar, tetapi ASI jangan dihentikan,” ucap Yogi menegaskan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....