IDAI Minta Keamanan Pangan Program MBG Diperketat

  • 12 Sep 2026 11:48 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IDAI menyoroti berulangnya kasus keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mengancam kesehatan anak.
  • Keamanan pangan (food safety) harus menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program MBG sejak awal peluncuran.
  • Ketua IDAI Piprim Basarah Yanuarso menekankan bahwa makanan yang dibagikan harus memenuhi standar keamanan pangan yang ketat dan terukur.

RRI.CO.ID, Jakarta - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyoroti berulangnya kasus keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Keamanan pangan, menurut IDAI, harus menjadi prioritas utama untuk memastikan makanan yang diberikan kepada anak benar-benar aman.

“Sejak awal kami IDAI sudah selalu ribut, selalu konsen masalah food safety atau standar keamanan pangan pada program MBG ini. Bagi kami, makanan yang dibagikan harus memenuhi standar keamanan pangan yang ketat,” kata Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu, 12 September 2026.

Piprim mengatakan, IDAI sejak awal mengusulkan agar penyediaan MBG dilakukan melalui kantin sekolah. Menurutnya, konsep tersebut memungkinkan makanan tetap hangat dan menu dapat disesuaikan dengan selera anak.



⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠Piprim mendorong agar pelaksanaan MBG kembali memprioritaskan anak-anak di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), sesuai konsep awal program. Ia menegaskan, kasus keracunan makanan tidak boleh dianggap sekadar angka statistik meski persentasenya kecil dibandingkan jumlah penerima.

“Bagi orang lain mungkin satu anak itu hanya sekadar angka, bahkan ada yang bilang 0,07 persen dari sekian juta anak. Tapi bagi keluarganya, anak itu bukan berupa angka. Anak yang keracunan itu bagi keluarganya segala-galanya,” ucap Piprim.

Menurut Piprim, dampak keracunan dapat berpengaruh serius terhadap kondisi kesehatan dan fungsi kognitif anak. Ia mencontohkan adanya keluarga yang melihat penurunan kondisi anak secara signifikan setelah mengalami keracunan.

“Kita bisa melihat kesedihan seorang ibu ketika anaknya mengalami kemunduran luar biasa setelah keracunan makanan. Dampaknya terlihat pada fungsi-fungsi kognitif dan kondisi kesehatan anak,” ucap Piprim menegaskan.

Karena itu, Piprim meminta evaluasi dan penguatan standar keamanan pangan program MBG dilakukan secara serius untuk melindungi kesehatan anak. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk mencegah risiko keracunan makanan yang dapat berdampak terhadap kesehatan anak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....