IDAI Usulkan Program MBG Dimasak di Kantin Sekolah

  • 12 Sep 2026 11:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengusulkan Program Makan Gizi Gratis (MBG) dimasak dan disajikan langsung di kantin sekolah. Langkah tersebut dinilai dapat memperkuat penerapan standar keamanan pangan bagi makanan yang dikonsumsi siswa.

Ketua Umum IDAI Piprim Basarah Yanuarso menilai memasak MBG di kantin membuat makanan lebih hangat saat disajikan. Menurut Piprim, konsep tersebut juga memastikan makanan lebih segar dan sesuai selera anak.

“Standar keamanan pangan harus diterapkan sangat ketat dan tidak boleh ditawar dalam pelaksanaan program MBG. Keamanan makanan anak harus menjadi prioritas utama agar program MBG tidak menimbulkan risiko kesehatan,” kata Piprim Basarah Yanuarso dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu, 12 September 2026.

Menurut Piprim, penyajian MBG di kantin sekolah juga dapat disesuaikan dengan selera anak, misalnya melalui konsep prasmanan. Hal tersebut dinilai dapat meningkatkan minat siswa untuk mengonsumsi makanan yang disediakan.

Usulan tersebut disampaikan IDAI merespons berulangnya kejadian keracunan dalam pelaksanaan program MBG. Piprim menilai, persoalan tersebut tidak semestinya hanya dilihat sebagai angka statistik karena berdampak langsung terhadap anak dan keluarga.

“Pemberian makanan bergizi kepada anak harus disertai jaminan keamanan dan memenuhi standar pangan yang berlaku. Karena itu, kami merekomendasikan konsep MBG ditinjau ulang dan dievaluasi secara objektif serta menyeluruh,” ujarnya.

Sementara, Anggota UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI Damayanti Rusli menjelaskan keracunan pangan disebabkan bahaya dari makanan maupun pengolahan. Menurutnya, perilaku manusia dalam mengolah makanan turut menjadi faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya keracunan.

“Keracunan pangan bisa berasal dari makanan yang dikonsumsi maupun perilaku manusia saat mengolah makanan tersebut. Karena itu, proses pengolahan makanan harus dilakukan secara tepat untuk mencegah terjadinya keracunan pangan,” kata Damayanti Rusli.

Ia menjelaskan, bahaya pada makanan dapat berupa paparan kimia maupun fisik, termasuk bakteri, jamur, cacing, dan pestisida. Risiko juga dapat meningkat akibat kesalahan dalam proses pengolahan makanan.

“Pencampuran makanan mentah dan matang dapat memicu keracunan, begitu pula kesalahan temperatur penyimpanan makanan. Bahan makanan juga harus dicuci hingga bersih sebelum diolah agar risiko kontaminasi dapat diminimalkan,” ujarnya.

Mengacu data WHO 2015, Damayanti menyebut satu dari 10 orang mengalami keracunan makanan setiap tahun. Anak-anak di bawah lima tahun menjadi kelompok rentan yang berisiko mengalami dampak serius akibat keracunan pangan.

“Yang sangat sensitif terhadap keracunan tersebut adalah lansia dan anak-anak di bawah lima tahun. Kalau MBG masuk ke 3B, risikonya lebih besar,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....