Dua Bulan di Garis Api, Manggala Agni Bertahan di tengah Asap
- 06 Sep 2026 07:04 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Kalimantan Barat – Asap pekat menyelimuti langit disertai bau gambut terbakar menusuk hidung. Di tengah panas yang menyengat dan udara yang semakin sesak, sebagian orang memilih menjauh.
Namun, bagi personel Manggala Agni, arah yang ditempuh justru sebaliknya. Ketika api muncul dan asap membubung, mereka bergerak mendekat.
Selama lebih dari dua bulan, personel Manggala Agni berada di garis depan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Hari-hari mereka diisi dengan pemadaman, patroli, dan upaya memastikan api tidak kembali menyala.
Posko dan tenda menjadi tempat beristirahat yang jauh dari rumah dan keluarga. Sebagian personel harus menjalani penugasan panjang tanpa bisa kembali menjalani rutinitas seperti biasanya.
“Selama ini lebih banyak merasakan dampak asap terhadap kesehatan dan aktivitas sehari-hari. Ketika orang mencoba lari ketika ada api, mereka malah masuk ke dalam untuk memastikan api padam,” kata Sahat,” kata Koordinator Manggala Agni Provinsi Kalimantan Barat, Sahat Irawan Manik.
Di balik kabut asap yang menyelimuti Kalimantan Barat, ada personel Manggala Agni yang harus bekerja berjam-jam di lapangan. Bersama TNI, Polri, Brigade Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Masyarakat Peduli Api (MPA), mereka menghadapi panas, asap, serta medan tidak mudah.
“Coba pikirkan juga bagaimana anggota-anggota kami yang ada di balik asap itu. Yang sehari-hari harus berada di dalam asap,” ujarnya.
Bagi para personel, memadamkan api bukan sekadar menyemprotkan air ke titik kebakaran. Mereka harus bertahan dalam kondisi fisik dan mental yang terus diuji.
Terlebih, dalam status siaga satu, sejumlah personel telah menjalani penugasan selama lebih dari dua bulan. Waktu bersama keluarga pun harus digantikan dengan panggilan singkat melalui telepon.
Teknologi menjadi satu-satunya jembatan untuk tetap berkomunikasi dengan orang-orang di rumah. Di lapangan, kelelahan menjadi bagian yang tak terpisahkan.
Karena itu, Manggala Agni menerapkan sistem pergantian tugas atau rolling. Setiap personel diberikan kesempatan beristirahat sebelum kembali menjalankan tugas.
Istirahat pun tidak selalu berarti pulang ke rumah. Terkadang, mereka hanya berpindah dari lokasi pemadaman ke posko atau tenda.
Untuk menjaga semangat, kegiatan-kegiatan sederhana dilakukan. Bercanda dengan rekan, bernyanyi, hingga menciptakan hiburan kecil menjadi cara untuk mengurangi tekanan selama penugasan.
“Kalau dari sisi psikis, kita atur sistem rolling-nya supaya ada waktu mereka untuk istirahat. Kemudian bergurau, bernyanyi dan kegiatan-kegiatan yang menghibur,” kata Sahat.
Kondisi fisik juga menjadi perhatian.
Personel mendapatkan dukungan multivitamin dan suplemen. Pemeriksaan kesehatan dilakukan secara rutin untuk memastikan tubuh mereka tetap mampu menghadapi beratnya tugas di lapangan.
Jika kondisi kesehatan menurun, personel akan diberikan waktu untuk beristirahat sebelum kembali diterjunkan ke lokasi kebakaran. Di tengah kondisi udara yang dipenuhi asap, dukungan oksigen portable juga disiapkan.
Sementara itu, perlengkapan pelindung menjadi bagian penting dari setiap penugasan. Pelindung kepala, kacamata, masker khusus, pakaian pelindung, sepatu tahan api, hingga sarung tangan tahan api dikenakan.
Perlengkapan tersebut disiapkan untuk mengurangi risiko saat berada di dekat titik kebakaran. Namun, perlengkapan itu tidak menghilangkan seluruh tantangan.
Bagi Sahat, masyarakat perlu memahami bahwa dampak karhutla tidak hanya dirasakan oleh warga yang terpapar asap. Ada pula pasukan yang harus berada paling dekat dengan api.
Mereka adalah orang-orang yang bergerak ketika kebanyakan orang memilih menjauh. Karena itu, Sahat kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan.
Menurutnya, kebakaran yang sebenarnya dapat dicegah tidak seharusnya terjadi. Sebab, setiap api yang muncul bukan hanya meninggalkan asap di langit.
Ada pula petugas yang harus meninggalkan rumah, keluarga, dan kenyamanan hidupnya untuk berdiri di garis depan. “Yang terdampak oleh api dan asap itu bukan hanya masyarakat umum, tetapi juga pasukan-pasukan yang berdiri di garis depan,” ujar Sahat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....