Mengapa Cakupan Imunisasi Harus di atas 95 Persen? Ini Penjelasan Ketua Umum IDAI
- 23 Agt 2026 09:56 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ancaman Penurunan Cakupan: Penurunan cakupan imunisasi campak dari 95% ke 70% saja sudah cukup memicu timbulnya kembali Kejadian Luar Biasa (KLB) di daerah.
- Pentingnya Herd Immunity: Kekebalan komunitas hanya dapat tercapai jika tingkat partisipasi vaksinasi di tengah masyarakat berada di angka yang sangat tinggi.
- Layanan Kejar Tayang: Orang tua yang telanjur melewatkan jadwal dapat memanfaatkan fasilitas catch-up immunization gratis di Puskesmas atau Posyandu.
RRI.CO.ID, Jakarta - Penurunan cakupan imunisasi di tengah masyarakat terbukti menjadi pemicu utama kemunculan kembali Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti wabah polio dan campak di berbagai daerah. Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Piprim Basarah, menegaskan bahwa kekebalan komunitas atau herd immunity hanya dapat tercapai apabila partisipasi vaksinasi masyarakat sangat tinggi.
Dr. Piprim memaparkan bahwa penyakit seperti campak memiliki tingkat penularan yang sangat cepat dan jauh lebih masif dibandingkan virus menular lainnya. Penurunan persentase cakupan vaksinasi yang drastis di suatu wilayah secara otomatis akan membuka celah lebar bagi kembalinya wabah mematikan.
"Kalau ada orang tua yang galau dengan imunisasi, enggak harus cakupannya 0 persen, yang tadinya 95 persen turun menjadi 70 persen saja kalau campak itu KLB-nya sudah muncul," kata Dr. Piprim.
Ia menceritakan pengalamannya ketika masa kecil di mana banyak anak seusianya terpaksa menggunakan tongkat akibat mengalami kelumpuhan permanen karena terserang virus polio. Berkat keberhasilan program vaksinasi massal di masa lalu, kasus-kasus pelumpuhan tersebut sempat lenyap sebelum akhirnya muncul kembali akibat keraguan masyarakat terhadap vaksin.
"Zaman saya kecil itu di sekolah saya tuh banyak yang pakai tongkat, kakinya kecil sebelah karena kena polio, tapi kan zaman kalian enggak ada kan di SD yang kena polio lagi," kenang Dr. Piprim.
Untuk mencegah sejarah kelam tersebut terulang kembali, pemerintah telah menyediakan fasilitas imunisasi lengkap secara gratis di berbagai Puskesmas dan Posyandu terdekat. Sayangnya, kemudahan akses fasilitas kesehatan ini kerap diabaikan akibat pengaruh informasi bohong atau hoaks yang masif di ruang digital.
Dr. Piprim juga menyoroti pentingnya edukasi visual yang kreatif dalam meyakinkan masyarakat di daerah untuk tidak takut memberikan vaksin kepada anak-anak mereka. Strategi pemutaran film edukasi mengenai dampak buruk penyakit menular terbukti ampuh membangkitkan kesadaran warga di berbagai wilayah pedesaan.
Para tenaga kesehatan di seluruh lini pelayanan medis pun diinstruksikan untuk proaktif mendampingi para orang tua guna meredakan kecemasan berlebihan seputar efek samping ringan. Demam ringan atau rasa pegal sesaat setelah suntikan merupakan reaksi normal pembentukan antibodi yang jauh lebih baik daripada risiko komplikasi penyakit berat.
Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, tenaga medis, pemuka agama, dan media massa menjadi kunci utama dalam menggenjot angka partisipasi imunisasi nasional. Mari tingkatkan kepedulian bersama dengan memastikan anak-anak kita mendapatkan perlindungan vaksin yang lengkap demi menyongsong masa depan generasi emas Indonesia yang sehat dan tangguh.
Saksikan diskusi kesehatan selengkapnya mengenai edukasi vaksinasi anak melalui RRI PRO3 Official YouTube.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....