Angka 'Zero-Dose Vaksin' Masih Tinggi, Wamenkes Dante Paparkan Faktor Penyebabnya
- 05 Agt 2026 21:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Wamenkes Dante Saksono menyebut Zero-Dose Vaksin adalah anak yang belum menerima imunisasi DPT-1 hingga usia satu tahun sesuai kriteria WHO
- Indonesia memiliki sekitar 650 ribu anak Zero-Dose Vaksin setiap tahun dan menempati peringkat kelima dunia untuk kasus tersebut
- Kendala akses di daerah 3T serta hoaks dan minimnya pemahaman masyarakat menjadi faktor utama tingginya angka Zero-Dose Vaksin
RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono menjelaskan Zero-Dose Vaksin merupakan kondisi anak yang belum pernah menerima imunisasi hingga berusia satu tahun. Menurut kriteria Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), status tersebut ditentukan berdasarkan belum diterimanya imunisasi DPT-1 sampai usia satu tahun.
“Zero-Dose Vaksin itu adalah anak-anak yang belum sama sekali mendapatkan imunisasi sampai dengan umur satu tahun. Imunisasi DPT-1 menurut kriteria WHO,” ujarnya kepada RRI di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2026.
Dante menyebut jumlah anak dengan status Zero-Dose Vaksin di Indonesia mencapai sekitar 650 ribu setiap tahunnya. Angka tersebut berasal dari sekitar lima juta kelahiran setiap tahun sehingga masih menjadi perhatian penting bagi seluruh pihak.
Ia mengatakan Indonesia saat ini berada pada urutan kelima dunia dalam jumlah kasus Zero-Dose Vaksin. Menurutnya, persoalan tersebut bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan juga masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan, termasuk media yang berperan memberikan edukasi.
Dante menjelaskan penyebab Zero-Dose Vaksin tidak hanya berkaitan dengan vaksinasi, tetapi juga dipengaruhi faktor suplai dan demand. Faktor suplai terutama terjadi di daerah 3T yang sulit dijangkau sehingga pelayanan imunisasi menghadapi berbagai kendala.
“Bukan soal masalah vaksinasi dan tidak vaksinasi saja, tapi ada aspek internal yang seribu sebagai faktor internal dan faktor eksternal. Ada faktor suplai dan ada faktor demand, faktor suplainya adalah karena memang ada beberapa daerah di Indonesia yang sulit dijangkau,” ucap Dante.
Ia mencontohkan terdapat wilayah di Papua yang membutuhkan waktu perjalanan sangat lama dari kecamatan menuju sebuah dusun. Selain itu, daerah kepulauan juga menghadapi hambatan ketika gelombang laut tinggi sehingga pelaksanaan vaksinasi menjadi lebih sulit.
Dante menambahkan, faktor demand dipengaruhi masih adanya masyarakat yang memiliki pemahaman keliru mengenai imunisasi serta terpapar hoaks. Ia menegaskan informasi yang benar mengenai imunisasi perlu terus disampaikan agar semakin banyak anak memperoleh perlindungan melalui vaksinasi.
“Masih ada masyarakat yang mempertimbangkan dan mempunyai pengetahuan yang salah mengenai imunisasi. Sehingga kadang-kadang ada rejeksi tentang imunisasi, pengetahuan tidak agak mengenai imunisasi, kemudian hoaks-hoaks imunisasi, ini yang harus kita luruskan kepada masyarakat,” katanya,
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....