Nakes Jelaskan Bahaya Paparan Konten Negatif di Media Sosial bagi Mental Prajurit

  • 31 Jul 2026 22:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Paparan konten negatif di media sosial merupakan ancaman potensial terhadap kesehatan mental prajurit selama menjalankan tugas.
  • Penggunaan media sosial yang berlebihan dan tidak bijak dapat memicu stres, kecemasan, dan depresi pada prajurit.
  • Diperlukan edukasi etika bermedia sosial dan literasi digital untuk melindungi kesejahteraan mental personel militer.

RRI.CO.ID, Jakarta - Paparan konten negatif di media sosial dinilai dapat menjadi ancaman bagi kesehatan mental prajurit di tengah tugas. Penggunaan media sosial yang tidak bijak berpotensi memicu stres, kecemasan, hingga depresi apabila berlangsung secara berlebihan.

"Akibat kecanduan gawai ini tentunya akan membuat tidak fokus dan hilang konsentrasi, jadi akan berakibat fatal. Bukan hanya buruk untuk diri sendiri, tapi juga berdampak pada satuan," kata Dokter Spesialis Psikiatri Departemen Kesehatan Jiwa RSPAD Gatot Soebroto, dr. Karina Yudithya, saat berbincang bersama Pro3 RRI, Jakarta, 31 Juli 2026.

Karina menjelaskan, teknologi dan media sosial ibarat pedang bermata dua yang menghadirkan manfaat sekaligus risiko. Dalam lingkungan militer, penggunaan media sosial yang berlebihan dapat memengaruhi kondisi biologis, psikologis, dan sosial prajurit.

Dari sisi biologis, paparan media sosial dapat memengaruhi sistem kimia otak melalui pelepasan dopamin saat memperoleh respons positif. Ketergantungan terhadap respons tersebut membuat seseorang mudah gelisah ketika tidak memperoleh perhatian.

"Saat mendapat reward akan memicu dopamin terus menerus, misalnya saat konten kita mendapatkan 'like'. Tapi, kalau misalnya tidak ada, bisa jadi gelisah dan kecemasan, seperti orang yang kecanduan," ucapnya.

Gangguan tersebut dapat berdampak pada penurunan kualitas tidur, sehingga tubuh dan pikiran tidak memperoleh waktu pemulihan optimal. Kondisi itu membuat prajurit lebih mudah mengalami kelelahan mental, burnout, penurunan konsentrasi, serta peningkatan risiko stres berkepanjangan.

Secara psikologis, berita konflik hingga kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial dapat memperburuk kondisi mental. Otak cenderung menyimpan memori negatif yang membuat seseorang terus merasa cemas apabila tidak memiliki mekanisme coping yang adaptif.

Ketergantungan terhadap gawai juga dinilai dapat mengganggu kedisiplinan dan kesiapan operasional prajurit karena memengaruhi fokus ketika menjalankan tugas. Penurunan konsentrasi berisiko menyebabkan keterlambatan mengambil keputusan maupun kesalahan dalam pelaksanaan tugas yang berdampak terhadap individu maupun satuan.

Sementara itu, upaya memperkuat ketahanan mental prajurit juga terus dilakukan di berbagai satuan TNI. Salah satunya, kegiatan Ceramah Kesehatan bertema Manajemen Stres, guna meningkatkan kemampuan personel mengenali stres dan cara mengelolanya.

"Menjaga kesehatan mental bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kesiapan dan tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, dan organisasi. Prajurit yang kuat adalah prajurit yang mampu mengendalikan emosi, berpikir jernih dalam setiap situasi, serta berani mencari solusi dan dukungan ketika menghadapi tekanan," kata Kepala Klinik Psikiatri RS dr. M. Salamun, dr. Putri Ratna Palupi, dikutip dari TNI Angkatan Udara (AU), Jakarta, 31 Juli 2026. (Shafa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....