Riset: Integrasi 'Self-Care' Perkuat Ketahanan Sistem Kesehatan
- 26 Jul 2026 10:58 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta – Integrasi perawatan kesehatan mandiri atau self-care dinilai mampu memperkuat ketahanan sistem kesehatan. Temuan tersebut diungkap dalam riset terbaru Economist Enterprise yang didukung Bayer.
Riset bertajuk Making Self-Care Work: Integrating Self-Care into Health Systems menyoroti pentingnya integrasi self-care. Praktik tersebut dinilai meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekaligus memperluas akses layanan kesehatan.
Riset memperkirakan praktik self-care memberikan manfaat ekonomi tahunan hingga sekitar US$179 miliar. Praktik tersebut juga mendukung pencapaian Cakupan Kesehatan Semesta atau Universal Health Coverage.
Tekanan terhadap sistem kesehatan terus meningkat akibat bertambahnya populasi lansia dan penyakit kronis. Kekurangan tenaga kesehatan serta ketimpangan akses layanan turut memperberat kondisi tersebut.
Riset menyebut self-care dapat menjadi solusi meningkatkan hasil kesehatan dan menjaga keberlanjutan layanan. Namun, penerapannya memerlukan informasi tepercaya, akses terjangkau, dan sistem rujukan yang jelas.
Ilmuwan Departemen Kesehatan Seksual, Reproduksi, Maternal, Anak, Remaja, dan Penuaan WHO, Dr. Manjulaa Narasimhan, mengatakan self-care merupakan garda terdepan pelayanan kesehatan. Menurutnya, praktik tersebut berkontribusi besar terhadap peningkatan kesehatan jika didukung kebijakan dan bukti ilmiah.
"Self-care adalah garda terdepan untuk semua perawatan kesehatan. Dengan adanya bukti klinis, kebijakan mendukung, serta tenaga kesehatan dan perawatan yang terlatih, perawatan diri dapat berkontribusi besar meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan bagi semua orang," kata Manjulaa dalam keterangan tertulis, Sabtu, 25 Juli 2026.
WHO mendefinisikan self-care sebagai kemampuan individu, keluarga, dan komunitas menjaga kesehatan serta kesejahteraan. Praktiknya mencakup pola hidup sehat, pencegahan penyakit, pemantauan kesehatan, hingga penggunaan obat bebas secara bertanggung jawab.
Riset tersebut menegaskan self-care bukan pengganti layanan kesehatan formal, melainkan pelengkap yang saling mendukung. Dukungan informasi, pembiayaan, dan rujukan membuat praktik tersebut berjalan lebih efektif.
Presiden Consumer Health Bayer, Julio Triana, mengatakan solusi self-care menjadi bagian penting mengatasi kesenjangan layanan kesehatan global. Menurutnya, masyarakat perlu diberdayakan agar mampu mengambil keputusan tepat mengenai kesehatannya.
"Solusi self-care, termasuk penggunaan perangkat digital, obat bebas yang aman dan terjangkau, suplemen nutrisi, serta informasi edukatif, merupakan hal yang fundamental untuk mengatasi kesenjangan layanan kesehatan global. Kami ingin memberdayakan masyarakat agar memiliki kemampuan dan mengambil keputusan yang tepat bagi kesehatan mereka sendiri," ujar Julio.
Riset tersebut menggarisbawahi tiga prioritas memperkuat implementasi self-care dalam sistem kesehatan. Prioritas itu meliputi penguatan kebijakan, perluasan akses, serta peningkatan pengukuran dan akuntabilitas.
Sejumlah negara telah menerapkan integrasi self-care dalam layanan kesehatan. Jerman menerapkan green prescriptions, sedangkan Indonesia mengembangkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat atau GERMAS.
Direktur Jenderal Global Self-Care Federation, Greg Perry, menegaskan self-care tidak bertujuan menggantikan tanggung jawab sistem kesehatan. Menurutnya, praktik tersebut justru memperkuat kapasitas layanan kesehatan melalui sistem rujukan yang lebih efektif.
"Self-care tidak bertujuan melepaskan tanggung jawab sistem kesehatan. Pasien dapat memperoleh penanganan medis di fasilitas kesehatan secara tepat waktu saat benar-benar membutuhkannya," kata Greg.
Riset Economist Enterprise menyimpulkan self-care dapat menjadi langkah preventif yang hemat biaya dan berkelanjutan. Penguatan tata kelola, pembiayaan, akuntabilitas, serta sistem pendukung dinilai menjadi kunci keberhasilan integrasi self-care dalam sistem kesehatan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....