Menkes: Layanan Kesehatan Primer Kunci Indonesia Keluar dari Middle Income Trap

  • 27 Jul 2026 18:46 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan penguatan layanan kesehatan primer adalah kunci untuk memanfaatkan bonus demografi menuju Indonesia maju.
  • Masyarakat yang sehat menjadi modal utama untuk menghindari jebakan negara berpendapatan menengah dan mewujudkan Indonesia Emas 2045.
  • Pemerintah harus memastikan masyarakat tetap sehat dan produktif karena kesempatan emas bonus demografi tidak akan datang dua kali.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan penguatan layanan kesehatan primer menjadi kunci memanfaatkan bonus demografi menuju Indonesia maju. Masyarakat sehat, menurut Budi, menjadi modal utama menghindari jebakan negara berpendapatan menengah sekaligus mewujudkan Indonesia Emas 2045.

“Pemerintah harus memastikan masyarakat tetap sehat agar produktif. Kesempatan emas dari bonus demografi ini tidak akan datang dua kali,” kata Budi Gunadi Sadikin saat membuka Leimena Conference 2026 di Jakarta, Senin, 27 Juli 2026.

Budi mengatakan Indonesia memiliki waktu yang terbatas untuk memanfaatkan bonus demografi. Karena itu, pembangunan kesehatan harus diarahkan pada upaya menjaga masyarakat tetap sehat, bukan sekadar mengobati orang yang sudah sakit.

“Strategi kesehatan yang benar adalah menjaga masyarakat tetap sehat, bukan mengobati orang sakit. Karena masyarakat yang sehat akan mampu bekerja, meningkatkan produktivitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Pemerintah memperkuat layanan promotif dan preventif melalui imunisasi, skrining kesehatan, edukasi pola hidup sehat, serta pemeriksaan berkala. Langkah tersebut bertujuan mendeteksi penyakit tidak menular sejak dini sekaligus meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.

Selain itu, Menkes menekankan transformasi Integrasi Layanan Primer (ILP) mengubah pendekatan pelayanan kesehatan dari berbasis penyakit menjadi berbasis siklus hidup. Menurutnya, layanan kesehatan harus menjangkau seluruh kelompok usia, mulai dari remaja, usia produktif, hingga lanjut usia.

“Pelayanan kesehatan primer tidak lagi hanya berfokus pada ibu dan balita. Tetapi harus melayani seluruh siklus kehidupan masyarakat agar tetap sehat dan produktif,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Menkes juga mengingatkan Indonesia memiliki sejarah panjang dalam pengembangan pelayanan kesehatan primer. Ia menyebut gagasan Prof. Johannes Leimena pada 1951 yang kemudian diwujudkan melalui pengembangan puskesmas pada 1968 bahkan mendahului Deklarasi Alma-Ata 1978.

Ia pun mengajak akademisi dan peneliti menghasilkan inovasi yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Menurutnya, hasil riset harus mampu menjadi solusi nyata untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

“Riset tidak boleh berhenti sebagai karya ilmiah semata. Tetapi harus menjadi solusi yang memperkuat pelayanan kesehatan dan mempercepat terwujudnya Indonesia Emas 2045,” kata Menkes Budi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....