PCOS Kini Disebut PMOS, Kenali Kondisi dan Gejalanya

  • 22 Jul 2026 02:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • PCOS telah diubah namanya menjadi PMOS (Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome) secara resmi per 12 Mei 2026 untuk lebih akurat mencerminkan sifat gangguan metabolik sistemik dari kondisi ini.
  • Perubahan nama dilakukan untuk menunjukkan bahwa kondisi ini melibatkan metabolisme sistemik dan gangguan hormon yang berdampak pada seluruh tubuh, bukan hanya ovarium.
  • Menurut data The Lancet, sekitar 170 juta wanita di seluruh dunia mengalami PMOS/PCOS, menjadikannya gangguan hormon yang signifikan secara global.

RRI.CO.ID, Jakarta - PCOS (Polycystic Ovary Syndrome) sudah resmi berganti nama menjadi PMOS (Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome) per 12 Mei 2026. Perubahan dilakukan untuk menunjukkan bahwa keadaan ini menyangkut metabolisme sistemik dan gangguan hormon yang berdampak pada seluruh tubuh.

PMOS merupakan sebuah gangguan hormon berkepanjangan rumit yang dapat ditandai melalui beberapa gejala dari penyakit ini. Menurut data dari The Lancet, secara internasional, penyakit ini dialami sekitar 170 juta wanita.

Dilansir dari Halodoc, kondisi ini diderita 5-10 persen perempuan di usia subur, biasanya pada remaja yang baru menstruasi. Penyebab penyakitnya beragam, seperti genetik, sehingga jika saudara perempuanmu menderita ini, ada kemungkinan besar kamu juga akan mendapatkannya.

Penyebab lainnya adalah faktor gaya hidup tidak sehat, seperti pola makan buruk, stres berlebihan, dan kurangnya beraktivitas fisik. Karena kita sudah mengetahui apa faktor penyakitnya, lalu apa pertanda jika kita menderita penyakit ini?

Bentuk gejala penyakitnya bervariasi, salah satunya adalah tidak teraturnya jadwal haid, jarang sekali, atau sama sekali tidak haid. Jika siklus menstruasi tidak menentu, jarang, atau bahkan tidak menstruasi selama tiga bulan karena proses ovulasi yang terganggu.

Gejala lain adalah kesulitan menurunkan berat badan yang membuat badan lebih berisi, khususnya di area perut. Beragam upaya menurunkan berat badan menjadi tidak memiliki banyak pengaruh karena ketidakseimbangan hormon itu sendiri.

Untuk meminimalisir terjadinya hal-hal tersebut, kamu dapat menerapkan pola hidup yang sehat, seperti olahraga harian selama 30 menit. Jika kamu sudah terlanjur menderita penyakit ini, kamu bisa mendapatkan pengobatan medis untuk mengatasi efek buruk dari penyakit ini. (Shafira Nursyifa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....