Kepala BPOM Soroti Tiga Tantangan Utama Profesi Apoteker di Masa Mendatang

  • 10 Jun 2026 13:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kepala BPOM menyoroti tiga tantangan utama profesi apoteker, yakni peningkatan profesionalisme, edukasi masyarakat, serta perkembangan teknologi digital dan AI
  • Tingginya angka swamedikasi mendorong apoteker untuk lebih aktif memberikan edukasi kesehatan dan penggunaan obat yang aman serta rasional
  • BPOM mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat kolaborasi guna mendukung sistem self-care nasional yang berorientasi pada perlindungan masyarakat

RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala BPOM menekankan tiga tantangan utama yang harus dihadapi profesi apoteker dalam memperkuat layanan kesehatan nasional. Tantangan tersebut mencakup profesionalisme, edukasi masyarakat, serta perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan yang terus berkembang pesat kini.

Menjaga profesionalisme menuntut apoteker terus memperbarui kompetensi mengikuti perkembangan ilmu kefarmasian yang berlangsung sangat cepat. Tingginya angka swamedikasi (self-care) juga mendorong apoteker lebih dekat dengan masyarakat melalui edukasi kesehatan berkelanjutan yang tepat.

Perkembangan teknologi digital dan artificial intelligence (AI) menghadirkan tantangan baru terkait penyebaran informasi kesehatan yang tidak akurat. Kondisi tersebut meningkatkan kebutuhan peran apoteker dalam memberikan informasi penggunaan obat yang benar dan terpercaya.

“Apoteker yang kompeten dan berintegritas merupakan aset utama dalam sistem kesehatan nasional. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi dan profesionalisme apoteker merupakan investasi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan kesehatan bangsa,” katanya dalam kegiatan SwipeRx Indonesian Pharmacy Expo & Conference (IPEC) di The Kasablanka Hall, Jakarta, pada Sabtu, 6 Juni 2026.

Selain regulasi dan kolaborasi, penguatan literasi kesehatan masyarakat menjadi aspek penting dalam membangun budaya self-care yang bertanggung jawab. BPOM terus memperluas program Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) dengan melibatkan organisasi profesi serta tenaga kesehatan terkait.

Program KIE tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penggunaan obat yang aman dan rasional sehari-hari. Para apoteker menjadi bagian penting dalam menyampaikan edukasi kesehatan agar masyarakat lebih memahami terapi yang tepat.

Kepala BPOM mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat sinergi demi mendukung sistem self-care nasional berorientasi perlindungan masyarakat. “BPOM dan tenaga kesehatan berdiri pada tujuan yang sama, yaitu memastikan setiap terapi dimulai dari produk obat yang aman dan bermutu,” ucapnya.

Kegiatan SwipeRx IPEC 2026 diikuti lebih dari 1.500 apoteker, sarjana farmasi, dan tenaga vokasi kefarmasian berbagai daerah Indonesia. IPEC 2026 menjadi wadah pembelajaran, pertukaran pengetahuan, serta penguatan jejaring profesi kefarmasian bagi para peserta.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....