Jamu Diakui Dunia, Kepala BPOM Soroti Kekayaan Indonesia
- 07 Jun 2026 14:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kepala BPOM Taruna Ikrar menyebut pengakuan UNESCO terhadap jamu menjadi bukti kekayaan Indonesia diakui dunia.
- Jamu telah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda yang mendapat pengakuan internasional.
- Pernyataan tersebut disampaikan pada puncak Pekan Hari Jamu Nasional di Jakarta.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar mengatakan jamu mendapat pengakuan dunia sebagai warisan budaya takbenda. Menurutnya, pengakuan tersebut menjadi bukti bahwa dunia mengakui kekayaan yang dimiliki Indonesia.
Taruna menyampaikan hal itu pada puncak rangkaian Pekan Hari Jamu Nasional yang digelar di Jakarta. Kegiatan tersebut diisi fun run dan fun walk yang diikuti sekitar dua ribu peserta.
"Kita ingin mempromosikan jamu bahwa jamu itu bagian dari UNESCO telah memberikan penghargaan. Jamu merupakan kekayaan tak benda dan itu merupakan pengakuan dunia terhadap kita," ujar Taruna saat ditemui di Jakarta, Minggu, 7 Juni 2026.
Taruna menjelaskan Indonesia memiliki sekitar 31 ribu jenis tumbuhan yang menjadi kekayaan hayati nasional. Selain itu, terdapat sekitar 22 ribu nomor izin edar yang berkaitan dengan obat asli Indonesia.
Menurutnya, jumlah tersebut menunjukkan besarnya kekayaan yang dimiliki Indonesia. Ia berharap jumlah produk obat asli Indonesia terus meningkat pada masa mendatang.
"Ada 31 ribu jenis tumbuhan yang cuma ada tumbuh di Indonesia. Sudah ada 22 ribu nomor izin edar yang berhubungan dengan obat asli Indonesia," kata Taruna.
Taruna mengatakan kegiatan tersebut juga menjadi sarana sosialisasi pola hidup sehat kepada masyarakat luas. Masyarakat diajak membiasakan olahraga sekaligus mengenal manfaat jamu sebagai kekayaan Nusantara.
Menurutnya, olahraga dan konsumsi jamu dapat menjadi bagian penting dari gaya hidup sehat. Kedua hal tersebut dapat mendukung upaya menjaga kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.
"Kita juga ingin mensosialisasikan cara hidup sehat dengan lari, jalan, dan olahraga. Dengan jamu, ditambah olahraga, maka hidup ini semakin sehat," ucap Taruna.
Menjawab pertanyaan mengenai generasi muda, Taruna menegaskan pentingnya edukasi mengenai manfaat jamu. Ia meminta masyarakat tidak melupakan warisan budaya yang telah diwariskan turun-temurun tersebut.
Menurutnya, jamu memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan dimanfaatkan masyarakat luas. Bahkan, jamu dapat menjadi produk kesehatan yang semakin penting pada masa mendatang.
"Jangan lupakan jamu karena jamu adalah warisan yang sangat berharga bagi umat manusia. Jamu memiliki potensi yang sangat besar bagi kesehatan kita," ujar Taruna.
Taruna menilai jamu tidak boleh dipandang sebagai produk kuno yang sudah ditinggalkan zaman. Inovasi diperlukan agar jamu semakin dekat dengan generasi milenial dan generasi alfa.
Ia juga menyebut potensi ekonomi jamu sangat besar apabila dikelola dengan baik. Nilai ekonominya bahkan dapat mencapai sekitar Rp350 triliun setiap tahun.
"Jamu itu jangan dipikirkan barang kuno, barang klasik yang tidak perlu lagi. Kedepannya jauh luar biasa dan bisa terus berinovasi," kata Taruna.
Taruna mengatakan, BPOM memiliki program Sapa Jamu dan Sapa UMKM untuk mendukung pelaku usaha. Program tersebut menjadi bagian proyek strategis yang memberi perhatian kepada UMKM.
Menurutnya, pelaku UMKM memiliki peluang besar untuk naik kelas melalui berbagai inovasi produk. Pemanfaatan teknologi digital juga dapat memperluas pemasaran produk jamu kepada masyarakat.
"Sapa UMKM ini bagian dari proyek strategis Bapak Presiden Prabowo. Kami diminta untuk memberi perhatian kepada pelaku UMKM," ucap Taruna.
Taruna optimistis jamu dapat semakin dikenal masyarakat dunia melalui kualitas dan standardisasi yang baik. Ia berharap jamu dapat menjadi salah satu identitas Indonesia di tingkat global.
Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu) Jony Yuwono mengajak seluruh pihak ikut melestarikan jamu. Menurutnya, para penjual jamu gendong memiliki peran penting menjaga warisan budaya bangsa.
Jony mengatakan para penjual jamu gendong bukan sekadar menjajakan minuman tradisional kepada masyarakat. Mereka juga menjaga identitas budaya Indonesia melalui tradisi yang terus dipertahankan hingga kini.
"Mereka bukan hanya sebagai penjaja minuman. Mereka juga merupakan penjaga identitas bangsa yang harus terus kita dukung," ujar Jony.
Jony mendorong pengembangan jamu dalam berbagai bentuk yang lebih sesuai kebutuhan masyarakat modern. Menurutnya, jamu tidak harus selalu dipasarkan dalam kemasan botol seperti selama ini.
Ia menyebut produk jamu dapat dikembangkan dalam bentuk saset, tablet, maupun kosmetik. Menurutnya, jamu diharapkan dapat dikenal hingga ke berbagai daerah dan dunia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....