BPOM Gelar 'Jamu Festival 2026', Dorong Masyarakat Terapkan Gaya Hidup Sehat

  • 09 Jun 2026 12:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BPOM menggelar Jamu Festival 2026 sebagai puncak peringatan Hari Jamu Nasional untuk mempromosikan budaya hidup sehat
  • Jamu semakin mendapat pengakuan internasional setelah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya tak benda
  • BPOM mendorong generasi muda dan UMKM mengembangkan jamu melalui inovasi serta pemanfaatan teknologi digital

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menggelar 'Jamu Festival 2026' sebagai puncak peringatan Hari Jamu Nasional. Kegiatan tersebut bertujuan mempromosikan budaya sehat melalui olahraga dan konsumsi jamu sebagai warisan Indonesia.

'Jamu Festival 2026' diselenggarakan melalui kolaborasi BPOM bersama Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu) dengan menghadirkan berbagai kegiatan edukatif. Festival ini dirancang untuk mengangkat budaya sehat berbasis jamu melalui aktivitas interaktif dan inspiratif.

Beragam kegiatan meramaikan festival, mulai dari Ginger Run 5K, Fresh Walk 3K, hingga senam sehat bersama. Selain itu, terdapat parade jamu gendong, estafet permainan Nusantara, dan talkshow khusus Hari Jamu.

Festival juga menghadirkan lomba meracik jamu, pertunjukan budaya, penampilan musik, serta mini expo. Kegiatan Ginger Run 5K dan Fresh Walk 3K diikuti sedikitnya dua ribu peserta dari berbagai kalangan.

Sebanyak 130 pelaku jamu gendong turut memeriahkan festival dengan menyajikan berbagai minuman tradisional. Mereka menyediakan jamu beras kencur, kunyit asam, dan jahe untuk dinikmati para pengunjung.

Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan peringatan Hari Jamu Nasional tidak sekadar mempromosikan warisan budaya Indonesia. Menurutnya, kegiatan tersebut juga mendorong masyarakat menerapkan pola hidup sehat melalui olahraga dan obat bahan alam.

“Dengan lari, jalan, olahraga, ditambah konsumsi jamu, maka hidup akan semakin sehat. Ini adalah kekayaan Indonesia yang harus kita banggakan,” ujarnya di Jakarta, Minggu, 7 Juni 2026.

Taruna menjelaskan, pengakuan internasional terhadap jamu semakin menguat setelah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya tak benda. Selain itu, WHO juga semakin membuka ruang pengembangan pengobatan tradisional berbasis bukti ilmiah.

Ia mengungkapkan Indonesia memiliki kekayaan hayati luar biasa dengan sekitar 31 ribu jenis tanaman. Ribuan diantaranya telah dimanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional dan produk kesehatan.

Saat ini terdapat sekitar 22 ribu nomor izin edar yang berkaitan dengan obat asli Indonesia. BPOM berharap jumlah tersebut terus bertambah seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap produk berbahan alam.

“Ini merupakan kekayaan yang luar biasa. Kita ingin semakin banyak masyarakat yang menggemari jamu karena ini milik kita sendiri,” kata Taruna.

Taruna menekankan pentingnya mengenalkan jamu kepada generasi muda melalui berbagai inovasi yang menarik. Ia juga menilai UMKM dan penjual jamu gendong berpeluang berkembang melalui pemanfaatan teknologi digital dan platform daring.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....