Ahli Gizi Ingatkan Bahaya Konsumsi Daging Berlebihan saat Iduladha
- 27 Mei 2026 20:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ahli gizi mengingatkan konsumsi daging kurban harus tetap seimbang dan tidak berlebihan.
- Daging kambing disebut bukan penyebab utama hipertensi, melainkan pola makan yang tidak terkontrol.
- Masyarakat dianjurkan melengkapi konsumsi daging dengan sayur, buah, dan pola makan sehat.
RRI.CO.ID, Jakarta - Momen Iduladha identik dengan berbagai hidangan berbahan daging seperti sate, gulai, hingga tengkleng. Namun, Ahli Gizi Masyarakat, dr. Tan Shot Yen, mengingatkan masyarakat agar tidak berlebihan dalam mengonsumsi daging kurban.
Menurutnya, daging tetap merupakan sumber protein yang baik bagi tubuh. Namun konsumsi berlebihan tanpa pola makan seimbang justru dapat menimbulkan masalah kesehatan.
“Daging merupakan bagian dari protein kita ya, itu sumber protein. Kita harus memperhatikan, jangan sampai berlebihan,” katanya dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Rabu, 27 Mei 2026.
Ia menjelaskan tubuh manusia tetap membutuhkan keseimbangan nutrisi berupa karbohidrat, protein, lemak, sayur, dan buah. Karena itu, menu makanan saat Idul Adha sebaiknya tetap dilengkapi dengan sayuran dan buah-buahan.
Tan juga menyarankan masyarakat menerapkan pola makan seimbang dengan komposisi sederhana. Dalam satu kali makan, lauk berprotein dan karbohidrat seperti cukup sebesar telapak tangan, serta dilengkapi sayur dan buah.
“Nah lauknya itu bisa macam-macam. Pokoknya yang lebih penting lagi adalah nggak boleh kalap,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar daging kurban tidak langsung diolah sekaligus dalam jumlah besar. Menurutnya, daging sebaiknya dibagi untuk beberapa hari agar konsumsi tetap terkontrol.
Sebagai contoh, jika hari pertama memasak tengkleng atau gulai bersantan, maka konsumsi daging bisa dihentikan sementara pada hari berikutnya. Sisa daging dapat disimpan di kulkas atau freezer untuk diolah di waktu lain seperti rendang atau sate.
Selain itu, Tan menepis anggapan bahwa daging kambing menjadi penyebab utama tekanan darah tinggi. Ia menilai kondisi tersebut lebih sering dipicu pola makan yang tidak terkontrol dan kebiasaan makan berlebihan.
“Itu mitos ya, yang menjadi masalah adalah orang yang memiliki hipertensi tidak terkontrol. Mereka nggak cek tekanan darah berapa lalu tiba-tiba makan banyak daging,” katanya.
Ia menjelaskan penderita hipertensi tetap dapat menikmati hidangan daging selama tekanan darah terkontrol dan konsumsi makanan dalam jumlah wajar. Misalnya, makan sate secukupnya dan tidak dikombinasikan dengan berbagai hidangan berlemak dalam waktu bersamaan.
Tan juga mengingatkan masyarakat untuk membatasi konsumsi jeroan dan bagian daging berlemak tinggi. Menurutnya, bagian daging tanpa banyak lemak lebih aman dikonsumsi dibanding bagian yang mengandung lemak jenuh tinggi.
Menurut dia, semua jenis sayur dan buah pada dasarnya baik dikonsumsi bersama daging. Ia menilai Indonesia memiliki banyak pilihan pangan sehat yang dapat membantu menjaga keseimbangan nutrisi tubuh
“Anda boleh saja menikmati daging, tetapi asal Anda bisa berbagi dengan orang lain, apalagi yang membutuhkan. Insya Allah kurban Anda akan menjadi lebih beribadah,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....