Ramai Dibahas, Simak Wilayah Penyebaran Hantavirus di Dunia

  • 11 Mei 2026 16:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Hantavirus sebenarnya telah diteliti sejak era Perang Korea dan bukan penyakit baru di Indonesia.
  • Virus Hantaan pertama kali diisolasi pada 1978 dari hewan pengerat dekat Sungai Hantan Korea Selatan.
  • Kementerian Kesehatan mencatat kasus hantavirus masih ditemukan di sejumlah wilayah Indonesia hingga 2026.

RRI.CO.ID, Jakarta - Hantavirus kembali menjadi perhatian publik setelah dikaitkan dengan kasus kesehatan yang menimpa kru kapal pesiar beberapa waktu terakhir. Meski ramai dibahas belakangan ini, virus tersebut sebenarnya bukan penyakit baru di Indonesia maupun dunia.

Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan melalui tikus dan hewan pengerat lainnya seperti celurut. Virus dari genus Orthohantavirus itu diketahui dapat menyebabkan gangguan pernapasan hingga kerusakan ginjal serius.

Gejala awal penderita hantavirus umumnya berupa demam, nyeri otot, mual, hingga rasa lelah berlebihan. Pada kondisi tertentu, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan maupun sindrom gagal ginjal berbahaya.

Penelitian terkait hantavirus sebenarnya sudah dimulai sejak era 1950-an setelah berakhirnya Perang Korea. Mengutip jurnal Clin Lab Med karya Mohammed Mir, penelitian ilmiah dilakukan setelah ribuan tentara mengalami gejala demam berdarah misterius.

Kasus tersebut dilaporkan menyerang sekitar 3.000 personel Pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa selama Perang Korea berlangsung. Namun, penyebab pasti penyakit itu baru berhasil diidentifikasi beberapa dekade setelahnya.

Pada 1978, ilmuwan berhasil mengisolasi virus dari hewan pengerat kecil Apodemus agrarius di Korea Selatan. Virus tersebut ditemukan di sekitar Sungai Hantan sehingga kemudian diberi nama virus Hantaan.

Tiga tahun kemudian, tepatnya 1981, genus Hantavirus resmi diperkenalkan dalam famili Bunyaviridae. Virus tersebut diketahui menjadi penyebab haemorrhagic fever with renal syndrome atau HFRS.

Perkembangan penelitian terus berlangsung setelah muncul wabah baru di Amerika Serikat pada 1993. Wabah tersebut menyebabkan gangguan pernapasan serius yang kemudian dikenal sebagai hantavirus pulmonary syndrome atau HPS.

Seiring waktu, persebaran hantavirus ditemukan di berbagai kawasan dunia dengan tipe virus berbeda-beda. Setiap jenis virus memiliki wilayah penyebaran dominan sesuai habitat hewan pengerat pembawanya.

Berikut persebaran beberapa tipe hantavirus di dunia:

1. Virus Hantaan

Jenis ini banyak ditemukan di kawasan Asia Timur seperti China Korea Selatan dan sebagian Rusia. Virus tersebut dikenal sebagai penyebab utama kasus HFRS di wilayah Asia.

2. Virus Puumala

Virus Puumala umumnya tersebar di kawasan Skandinavia Eropa Barat hingga Rusia bagian barat. Jenis ini sering dikaitkan dengan infeksi ringan hingga sedang pada manusia.

3. Virus Dobrava

Tipe virus ini banyak ditemukan di kawasan Balkan dan sebagian Eropa Timur. Infeksinya diketahui dapat menyebabkan gangguan ginjal dengan tingkat fatalitas cukup tinggi.

4. Virus Saarema

Virus Saarema tersebar di wilayah Eropa Tengah dan kawasan Skandinavia bagian utara. Penyebarannya berkaitan dengan populasi tikus liar kawasan hutan Eropa.

5. Virus Seoul

Virus Seoul menjadi salah satu jenis hantavirus dengan persebaran paling luas seluruh dunia. Penyebarannya banyak berkaitan dengan tikus rumah di kawasan perkotaan padat penduduk.

6. Virus Sin Nombre

Jenis virus ini dominan ditemukan di Amerika Serikat dan Kanada bagian tertentu. Virus Sin Nombre menjadi penyebab utama kasus HPS di kawasan Amerika Utara.

7. Virus Andes

Virus Andes banyak ditemukan di kawasan Amerika Selatan terutama Argentina dan Chile. Jenis ini diketahui memiliki tingkat penularan serta fatalitas cukup tinggi.

Di Indonesia, penelitian menunjukkan hantavirus sebenarnya telah ditemukan sejak era 1980-an. Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 23 kasus hantavirus jenis Seoul virus dalam tiga tahun terakhir.

Dari jumlah tersebut, tiga pasien dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi hantavirus yang mereka alami. Pada 2026, tambahan kasus juga ditemukan di sejumlah daerah termasuk DKI Jakarta dan DIY.

Kasus lain tercatat di Sumatera Barat Banten Jawa Barat Jawa Timur NTT Kalimantan Barat hingga Sulawesi Utara. Pemerintah mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah kontak dengan tikus pembawa virus.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....