Hati-Hati Makanan dan Minuman Manis Bisa Bikin Kecanduan

  • 04 Mei 2026 14:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Konsumsi makanan dan minuman manis dapat memicu pelepasan dopamin di otak sehingga menimbulkan keinginan untuk mengonsumsinya berulang kali dan berpotensi menyebabkan ketergantungan.
  • Batas konsumsi gula harian menurut WHO adalah sekitar 25–50 gram (6–12 sendok teh), sementara satu botol minuman kemasan saja sudah dapat memenuhi atau bahkan melebihi batas tersebut.
  • Untuk mencegah dampak kesehatan seperti obesitas, masyarakat disarankan mengurangi tingkat kemanisan dalam makanan dan minuman serta lebih bijak dalam mengonsumsi gula sehari-hari.

RRI.CO.ID, Jakarta - Banyak orang menyukai makanan dan minuman manis dalam kehidupan sehari-hari. Makanan dan minuman manis sering dianggap sebagai pembangkit energi.

Namun Ahli Gizi Tri Siswati menyebut, rasa manis pada makanan dan minuman dapat memicu efek dopamin di otak. Efek ini membuat orang cenderung ingin mengonsumsi makanan dan minuman manis berulang kali.

“Jika tidak dikontrol, kebiasaan ini bisa berkembang menjadi ketergantungan,” kata Tri, Sabtu, 2 Mei 2026. Menurut Guru Besar Bidang Ilmu Survailans Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta itu, ketergantungan pada rasa manis dapat memengaruhi pola makan harian seseorang.

“Makanya orang yang stress atau sedang gundah, mereka senang makan makanan yang manis. Karena ada efek adiktif,” ujarnya.

Secara umum, jumlah konsumsi gula yang disarankan per hari cukup terbatas. Menurut World Health Organization (WHO), konsumsi gula harian sekitar 25-50 gram.

Angka itu setara dengan 6-12 sendok teh. Sementara dalam sebotol minuman kemasan, sebut Tri, mengandung sekitar 7-9 sendok teh gula.

“Artinya dengan mengkonsumsi minuman kemasan tadi tentu sudah terpenuhi (kebutuhan gula harian). Padahal kebutuhan gula itu kan tidak hanya dari minuman saja, tapi juga dari kue dan sebagainya yang tentu ada rasa manisnya,” katanya.

Ia mengapresiasi pemerintah yang mulai menerapkan nutri level label pada makanan dan minuman kemasan. “Ini akan membantu masyarakat lebih bijak dalam konsumsi makanan minuman sehari-hari,” ujarnya.

Tri juga menyoroti tentang beban ganda malnutrisi (double burden of malnutrition) di Indonesia. Menurutnya, dengan mengkonsumsi gula secara bijak dapat membantu mengurangi angka obesitas.

“Kita menghadapi double burden of malnutrition yang salah satunya mengarah ke obesitas. Minum minuman manis boleh saja, tapi dikurangi sehingga tidak hanya untuk cita rasa,” ucapnya.

Ia menyarankan masyarakat mulai menurunkan level rasa manis dari minuman makanan yang dikonsumsi. “Turunkan rasa manis di level yang paling rendah untuk sekedar membangkitkan semangat,” kata Tri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....