Kemenkes: 95 Persen Kasus Malaria Berasal dari Papua
- 02 Mei 2026 07:43 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan bahwa Provinsi Papua masih menjadi fokus utama percepatan eliminasi malaria nasional.
- PLT Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Andi Saguni menyebut tingginya beban kasus di wilayah timur menjadi tantangan besar dalam mencapai target Indonesia bebas malaria pada 2030.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan bahwa Provinsi Papua masih menjadi fokus utama percepatan eliminasi malaria nasional. Pasalnya, sekitar 95 persen kasus malaria di Indonesia saat ini masih terkonsentrasi di enam provinsi di Tanah Papua.
“Sebanyak 95 persen kasus malaria di Indonesia berasal dari kawasan Papua. Ini menjadi atensi kita bersama untuk segera mewujudkan eliminasi malaria di Papua dan Indonesia Timur,” kata PLT Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Andi Saguni dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis, 30 April 2026.
Ia mengatakan, tingginya beban kasus di wilayah timur menjadi tantangan besar dalam mencapai target Indonesia bebas malaria pada 2030. Karena itu, Andi meminta pemerintah daerah (Pemda) hingga masyarakat memperkuat komitmen dalam upaya pencegahan serta pengendalian malaria secara berkelanjutan.
“Kita harus meningkatkan upaya pencegahan dan pengendalian malaria secara nasional. Saya berharap ini menjadi komitmen dan prioritas bersama,” ucap Andi.
Di tengah tantangan tersebut, Kemenkes mencatat capaian positif dengan bertambahnya daerah bebas malaria di Papua. Kabupaten Mebrak di Papua Barat Daya resmi bebas malaria pada 2025, menjadi inspirasi eliminasi wilayah lain.
“Ini membuktikan bahwa daerah lain di Papua pun pasti bisa. Namun eliminasi malaria bukan hasil instan, dibutuhkan dukungan semua pihak dan konsistensi selama bertahun-tahun,” kata Andi menegaskan.
Andi mengingatkan, tantangan tidak berhenti setelah suatu daerah dinyatakan bebas malaria. Menurutnya, mempertahankan status eliminasi justru menjadi pekerjaan yang sama beratnya, mengingat sejumlah daerah pernah mengalami lonjakan kasus hingga kejadian KLB setelah memperoleh sertifikat bebas malaria.
“Komitmen kita bukan hanya mendapatkan sertifikat. Tetapi menjaga agar wilayah tetap bebas malaria secara berkelanjutan,” kata Andi menutup.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....